Showing posts with label School. Show all posts
Showing posts with label School. Show all posts

Dilan #2 -- dia adalah Dilanku Tahun 1991 || BOOK REVIEW

Friday, February 26, 2016


Dilan Bagian Kedua--dia adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika dan Moemoe
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Layout sampul dan seting isi: Tim pencetak dan Deni Sopian
Terbit: Juli 2015
Cetakan: Kedua – Agustus 2015
ISBN: 978-602-7870-99-4
Tebal: 344 halaman
Harga: Rp. 69.000


Tagline
“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.” Pidi Baiq (1972-2098)

Blurb
“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.” –Milea
“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.” –Dilan

Resensi
Aku akan berusaha untuk menceritakan semuanya dengan jujur, dan dengan keadaan diriku yang kini sudah menjadi sarang rindu, yaitu sarang rindu yang berisi oleh banyak hal yang pernah kulalui di masa itu. Dan juga dengan keadaan diriku yang masih merasakan segala macam emosi yang berkaitan dengan itu.

Setelah resmi jadian, Milea dan Dilan tak pernah luput untuk menunjukkan kasih sayangnya masing-masing. Terlebih Milea yang sangat khawatir terhadap masalah yang selalu menimpa Dilan. Permasalahan dengan Anhar belum selesai ditambah dengan uji coba Dilan selama sebulan. Milea takut jika Dilan akan dipecat dari sekolah. Milea khawatir bagaimana masa depan Dilan kelak?

Saat Milea ingin merubah diri Dilan menjadi lebih baik, hadir Yugo-saudara jauh- dan Pak Dedi-guru magang- didalam kehidupannya. Kang adi dan Beni pun kembali hadir dengan membawa perasaan yang sama seperti dulu. Milea dikelilingi oleh lelaki yang menginginkan dirinya.

Tapi ia tak pernah berpikiran untuk jatuh cinta kepada lelaki lain. Hanya Dilan satu-satunya. Tetapi lelaki itu tak kunjung berubah, sampai akhirnya Milea memilih untuk ia yang merubah diri dan tanpa sadar telah mengekang Dilan.

M: “Tapi, anak nakal ngerepotin orang lain.”
D: “Gak ada anak nakal, reuninya gak akan rame.”
“Kau tahu, kalau sekolah ini diserang, siapa yang akan membela? Kami ini, lah!”
“Tanpa anak nakal, guru BP gak akan ada kerjaan. Harusnya, guru BP itu berterima kasih, deh, ke anak-anak nakal”

Jika rasa cinta yang terlalu besar telah berhasil mengubah segalanya. Bisakah sekarang Milea kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya?
Alhamdulillah... Harusnya sudah teposting dari 3 jam yang lalu. Entah karena sinyalnya yang rada-rada atau bagaimana sampai pakai 2 laptop segala dan akhirnya, postinganku kini bisa dibaca kalian hehe...

Setelah minggu kemarin membahas novel yang pertama Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990. Kini aku akan membahas novel keduanya yang tidak kalah ngetren, deh! Melanjutkan perjalanan cinta antara Milea dan Dilan.

Apa yang ia lakukan rasanya selalu adalah hal lain dari yang lain. Yaitu, hal berbeda yang sulit kuduga untuk selalu membuat aku merasa surprise dan merasa menjadi seseorang yang begitu istimewa, merasa menjadi wanita yang begitu dihargai.

Novel kedua yang ditampilkan dengan sosok Milea sebagai bintang sampulnya tidak serta merta membuatku menyukainya. Bukan karena aku sangat jatuh cinta pada sampul pertama ada sosok Dilan. Tetapi, lebih tepatnya karena berwarna coklat tua. Membawa kesuraman tanpa disadari. Seperti cover sebelumnya yang warnanya tidak terlalu mencolok, mungkin aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Sebenarnya selama cerita yang ditampilkan bagus, sampul bagaimanapun akan kuladeni! Hihi. Bukan berarti karena bintang sampulnya Milea, aku meminta background merah muda ya, itu ngga cocok sekali dengan sosok Milea ;) Cover lainnya...

Tentang tokoh utama yaitu Milea dan Dilan. Aku merasa dibagian #2 ini, tokoh Dilan kurang bersinar tidak seperti yang pertama. Hanya menonjolkan Milea. Dilan seperti tampak *yaudah deh ngalah* atau *terserah aja* jadi emosi Dilan sendiri kurang nangkep saat membacanya sedangkan dengan tokoh Milea, memang sukses bikin campur aduk perasaan. Sukses diajak senang-seneng bareng, sedih-sedih bareng, galau-galau dah.

Dan mungkin novel Dilan tidak akan pernah lepas dari para tokoh pembantu yang deketin Milea dan selalu garing abis pendekatannya duh. Tokoh-tokoh pembantunya juga bertambah banyak dibagian #2 dan juga penggambaran ilustrasi. Walaupun ada beberapa tokoh yang mampir sekali-dua kali, tapi juga turut digambarkan.

Dan tokoh kesukaanku dari bagian #1 dan #2 tetap sama, yaitu bunda (orangtua Dilan). Tokoh bunda ini seperti ibu pada umumnya. Sangat-sangat ingin punya CaMer -Calon Mertua- seperti bunda rasanya. Selain baik, bunda juga selalu mendukung untuk optimis dalam menghadapi sesuatu dan selalu membanggakan pacar anaknya, subhanallah. Dan bunda bisa menjadi tempat curhat, padahal Milea masih pacar Dilan, belum jadi menantu. Bahagia sekali ya punya CaMer seperti bunda hehe.
Tentang permasalahan dibagian #1 yang masih menggantung. Di bagian #2 memang diselesaikan walau menurutku sangat merembet kemana-mana –ya namanya juga geng motor, temen digebukin langsung balas dendam, gitu terus- dan tokoh Dilan diceritakan berhasil ditahan dikantor polisi 2 kali. Jadi bayangin aja gimana kesalnya Milea saat tau kalo Dilan masih menjadi geng motor dan akhirnya ngekang Dilan karena takut Dilan kenapa-kenapa.

Dan permasalahan lainnya, rasaku belum selesai. Seperti permasalahan dari tokoh pembantu-Anhar. Kata ibunya, Anhar mungkin akan dipecat dan itu masih mungkin. Sampai akhir cerita tidak dijelaskan bagaimana Anhar selanjutnya. Seperti tidak diperdulikan lagi.
Setelah itu masalah Kang Adi yang harusnya masih mengajar Milea setiap malam minggu sudah tidak ada lagi. Padahal Milea bilang, jika mau berhenti, ia harus berbicara dulu dengan ayahnya. Tapi? Tidak ada. Tokoh-tokoh pembantu banyak yang hilang padahal permasalahan mereka masih mengambang tidak jelas.
Ngomong-ngomong, aku merekomendasikan kalian untuk membaca novel yang bagian #2 dulu biar ngga terlalu jatuh *uhuk. Karena dibagian #1 adalah masa-masa Milea dan Dilan melakukan pendekatan yang semua orang juga tau, kalo pendekatan lebih mengasyikkan ketimbang saat sudah menjalani masa jadian. Itulah yang ditampilkan dalam Novel Dilan. Bagian #2 banyak sekali intrik dari pasangan yang telah resmi pacaran. Dari saling cemburu, posesifan, sampai over protektif. Jadi bagi kalian yang baper-baper nih, mending baca yang pertama terakhiran aja karena membawa kesan penuh cinta gitu hehe. Dan jangan takut kalo bakal bingung karena langsung baca yang kedua. Karena di bagian #2 banyak terselip adegan atau penjelasan dari bagian #1. Aku nyaranin ini demi kebaikan para galaoers aja. Kisah Dilan ini menarik. Jadi jangan takut dengan buku bagian #2 banyak permasalahan. Bukannya setiap hubungan memiliki resiko dan permasalahan yang harus dihadapi? ;)

“katanya: Kalau kamu bohong, itu hak kamu, asal jangan aku yang bohong ke kamu.”
“Katanya: Kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa.”

Oh iya, novel yang kedua ini merupakan akhir bagian dari cerita Milea. Tapiii... Tenang aja. Setelah novel "Dilan", akan ada novel "Milea". Yang aku rasa kali ini bagian Dilan yang bercerita. Sungguh! Aku penasaran sekali bagaimana cara pandang Dilan selama ini. Karena selama di novel "Dilan". Milea selalu menceritakan seakan-akan Dilan itu tidak terlalu ambil pusing dengan permasalahan dan juga tidak pemarah. Malah hampir tidak pernah ia memancing keributan untuk bertengkar dengan Milea dan mengeluarkan perkataan kasar. Benar-benar penasaran, tidak dapat menunggu lama Kang Pidi!
Minta maaf sebelumnya, jika terjadi kesalahan dalam tulisan atau pun cara mereview novelku yang tidak benar dan kurang memuaskan. Karena aku sendiri gemetaran harus mulai dari mana untuk membahas novel bestseller ini. Minta maaf buat Kang Pidi, jika aku pembaca yang banyak maunya hihi. Tapi terimakasih telah menciptakan tokoh Dilan dan Milea. Sekali lagi, terimakasih. Sampai jumpa direview novel Milea!

Setiap mengenang hal ini, aku merasa waktu itu seolah-olah aku adalah gadis yang paling menyedihkan di dunia.

Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1990 || Book Review

Friday, February 19, 2016


Judul: Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Moemoe dan Huda Wahid
Penyunting Ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Layout sampul dan seting isi: Tim Artistik dan Deni Sopian
Terbit: April 2014
Cetakan ke: 16 - Agustus 2015
Tebal: 332 halaman
ISBN: 978-602-7870-41-3
Harga: Rp. 69.000,-

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."
(Dilan 1990)
"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan menghilang."
(Dilan 1990)
"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli."
(Milea 1990)


Sekolah itu adalah tempat yang banyak menyimpan kenangan. Terutama menyangkut dengan seseorang yang aku cintai, yang pernah selalu mengisi hari-hariku di masa lalu, yang malam ini kisahnya ingin aku ceritakan padamu.

Sejak kepindahan Milea ke Bandung, hidupnya berubah secara perlahan--tidak akan pernah sama lagi. Kategori anak baru dan kecantikannya membuat semua orang tau siapa Milea Adnan Hussain--yang akrab dipanggil Lia. Tapi kehidupannya berubah bukan karena ia menjadi terkenal atau semacamnya. Tetapi karena lelaki yang bernama Dilan. Ia mempunyai maksud untuk mendekatkan diri ke Lia. Mungkin Lia akan dengan senang hati untuk mempersilahkannya, tetapi semenjak ia mengetahui bahwa lelaki itu merupakan anggota geng motor, ia mulai menyadari tidak seharusnya mengijinkan lelaki seperti itu dikehidupannya. Lelaki pembuat onar yang taunya hanya membuat kerusuhan. Lelaki yang hanya bisa mencelakakan dirinya sendiri dan merasa berkuasa.

Entah mengapa Lia merasa, jika Dilan berbeda. Dilan tidak sama seperti anggota geng motor lainnya. Dilan hanya akan bertindak jika merasa tidak dihargai atau dianggap rendah. Dilan hanya membela kebenaran. Dilan hanya… Dilan… Nama Dilan selalu terbayang-bayang disetiap tidur Milea. Mungkin itu tidak akan terjadi kalau saja Dilan tidak berhasil membuat Milea merasa nyaman tanpa disadari. Membuat Milea selalu membutuhkan Dilan. Jika tak ada Dilan, semua akan terasa hambar, tidak akan ada yang membuatnya terkejut dengan tingkah laku lelaki itu untuk membuat Milea Bahagia. Tidak akan ada lagi cara menunjukkan cinta ala Dilan yang sangat berbeda dengan lelaki lainnya. Tidak akan ada lagi Dilan. Dilanku. Milikku.

Sesaat Milea sadar, jika rasa penasarannya terhadap kehidupan Dilan membawa harapan besar untuk timbulnya cinta, membawanya menuju entah pada kesengsaraan atau kebahagiaan. Karena masih ada lelaki lain di Jakarta yang mempunyai hubungan dengannya. Hubungan yang tidak bisa dikatakan sebentar. Hubungan yang membuat Milea goyah karena cintanya kepada Beni—kekasihnya mulai pudar. Tapi ia tak bisa mengatakan itu kepada Beni ataupun Dilan.

Jadi apa yang harus Milea lakukan sekarang?
Mempertahankan Beni dan melupakan Dilan?
Atau Melepas Beni dan mengungkapkan kepada Dilan jika ia telah jatuh cinta?
Atau merelakan keduanya?
Apa yang harus Milea lakukan?!!!
Novel remaja yang lagi ngehits banget di tahun 2015 kemarin. Setiap ngecek status di line atau instagram, hampir semua teman pada foto sama buku Dilan atau nulis quote-quotenya gitu. Jadilah menggunggah rasa keingintahuan akan “Buku apa sih ini? Sampe kalangan anak SMA pada baper sama yang namanya Dilan?”
Dan sungguh novel ini memang berhasil merebut hati! Benar-benar membuat mabuk kepayang sama tingkah Dilan yang memang gelo, euy! Dan benar-benar tidak menyesal untuk membeli novel yang masuk kategori bestseller ini. Aku sangat puas!

Aku tidak bisa mengatakan bahwa saat itu aku sudah mencintainya tapi kupikir aku sedang menuju ke sana.

Cover
Sangat sederhana. Dengan latar berwarna biru… muda? Bukan. Biru navy? Bukan juga. Biru ya pokoknya biru kalemlah, tidak terlalu ngejreng sekali. Seperti cover lusuh gitu, mungkin biar terasa seperti tahun 90-an. Dengan gambar tokoh yaitu Dilan bersama dengan motornya! Hm. Walaupun sederhana tapi berasa sangat pas dengan cerita dan covernya tidak terlalu buruk. Malah kalau terlalu heboh, aku merasa tidak akan terbawa dengan suasana saat membacanya.
Cover sebelumnya:
"Harusnya dia mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai."

Penokohan

Kukira tokoh yang ditampilkan hanya segitu, sesuai dengan penggambaran ilustrasi. Tetapi masih sangat banyak tokoh-tokoh yang lain. Mungkin Ilustrasi tersebut menunjukkan para tokoh yang mempunyai peranan penting walau hanya sebagai tokoh pembantu. Tentang tokoh pembantunya, ada beberapa karakter yang sangat kurang ditonjolkan.
Aku kurang paham dengan sosok Nandan. Sangat tidak terasa tentang tokoh ini, padahal ia mempunyai peranan penting karena menyukai Milea juga.
Setelah itu Beni yang menurutku juga memilliki andil yang penting tentang perasaan Milea. Tapi saat membaca tokoh Milea bersinggungan dengan Beni, seperti WUS! BLAM! Hilang. Selesai. Walau sangat terasa bagaimana sakit hatinya Milea dengan Beni, tapi ya seperti itu:(
Dan tokoh pembantu lainnya yaitu Kang Adi sangat terasa sekali. Sampai-sampai aku kesal sendiri sama tokoh yang tidak peka ini. Benar-benar terasa menjengkelkannya.
Untuk pemeran utama? Milea berhasil diserta Dilan yang bikin nyaris ketawa sampai mau nangis! Hahahahaha.

Kukira dia mengerti, bahwa semua itu kulakukan adalah karena aku sayang padanya. Atau itulah dirinya? Dia yang pandai menutupi perasaan aslinya, agar aku merasa tidak bersalah dengan apa yang sudah kulakukan padanya.

Alur
Alur yang digunakan dari maju ke mundur dan perlahan mulai maju kembali. Seperti menceritakan tentang masa lalu, Flashback gitu. Alur yang disajikan sangat pas! Layaknya kita membaca buku diari seseorang secara terang-terangan. Sangat tidak terduga.
Latar
SANGAT TERASA SEKALI! Aku berhasil diajak ke tahun 90 yang jelas aku belum lahir hehe. Tapi penyajiannya..."AKU MAU LAHIR SEBELUM TAHUN 90-AN KARENA SANGAT 5^hk!@#" penggambaran suasana sangat terasa nyaman ditahun itu. Benar-benar mengasyikkan masa sekolah anak tahun 90-an. latar tempat pun terasa nyata, atau mungkin memang nyata? Seperti tempat jualan Bi Eem yang dipenuhi anak gengster berbagai sekolah. Aku berhasil membayangkannya dengan ilustrasi yang disampaikan pun sangat membantu! Apalagi dengan 'Jalan Milea' rasanya seperti ingin mengunjungi Bandung tapi bukan ditahun ini.

Kesalahan
Kalimat yang ditampilkan bersih dari typo. Mungkin kesalahan ada diberbagai kata penempatan spasi.
Setelah itu dihalaman 277 saat Milea menanyakan kepada Dilan “Kamu kemaren mau nyerang?” padahal hari itu adalah hari penyerangannya yang dilakukan sekitar siang atau sore hari. Dan percakapan itu terjadi saat malam hari. Tentu harusnya "Kamu tadi siang(atau sore) mau nyerang?"

M: “Kalau aku marah ke kamu?”
D: “Baguslah.”
M: “Bagus? Biar aku gak mau ketemu kamu?”
D: “Biar jadi ujian buat aku, bisa enggak membuat kamu menjadi tidak marah.”
M: “He he he. Kamu pasti bisa. Aku yakin ….”
D: “Tugasku membuat kamu senang.”
M: “Kalau tidak bisa membuat aku senang?”
D: “Berarti, aku gagal menjadi orang yang menyenangkanmu.”

Dan saat kamu membaca novel Dilan, jangan kaget ya! Kamu akan diajak mendengarkan kisah seseorang yang butuh sandaran. Seperti tempat curhat dan Milea butuh kamu untuk mendengarkan! Karena ini menggunakan POV pertama dari Milea-nya sendiri. Mungkin akan terasa datar saat diawal, tapi dibagian selanjutnya, novel ini tidak akan sanggup kamu tutup jika tidak terdesak sesuatu. Seperti cerita Milea harus kita dengarkan sampai habis!

Apa yang dia lakukan benar-benar istimewa, sesuatu yang berbeda yang tidak pernah terpikir orang lain. Sesuatu yang selalu berhasil untuk membuatku merasa sangat dicintai, merasa sangat dihargai dengan cara istimewa dan dengan cara yang tidak biasa.

Sangat tidak menduga. Walaupun bukan novel pertama yang kubaca layaknya diari. Tetapi kali ini aku tidak bosan untuk membaca berkali-kali. Seperti sosok Dilan itu nyata malah sangat nyata. Banyak tokoh lelaki yang digambarkan layaknya malaikat dengan kelebihan yang sangat luar biasa. Tetapi tokoh Dilan walau dibilang tidak terlalu ganteng dan pembuat onar, berhasil merebut sebagian besar kaum wanita di kalangan SMA sekarang. Wow! Dilan bukan lelaki yang akan membawakan bunga setiap Milea marah. Memberi coklat saat ingin bertemu. Dilan lebih dari itu semua!

Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.

Kalo disuruh memilih untuk bagian mana yang paling kusuka, aku tidak tahu kalo hanya memilih satu. Karena banyak sekali bagian-bagian saat Dilan melakukan pendekatan dengan Milea yang berhasil membuatku sendiri menjadi sosok Milea. Perlakuan dan perkataan Dilan sepert membius kaum hawa gitu hehe.
Tapi bagian yang menurutku rasanya seperti 'Wanita yang paling bahagia di bumi' jika ada yang seperti itu secara nyata adalah saat Anhar menampar Milea tanpa sengaja. Dan dilan yang tidak masuk sekolah mengetahui hal itu, langsung pergi ke sekolah untuk menghajar Anhar yang berani menyentuh Milea dengan kasar. Saat di ruang kepala sekolah pun, dia bilang "Kepala Sekolah berani nampar dia, kubakar sekolah ini!"
Dan sungguh! Ya ampun Dilan segitu banget sih demi cewek :3
Milea selalu mengatakan bahwa Dilan bukan jagoan, bukan superman, dia hanya anak SMA biasa yang selalu menghargai orang lain. Jika orang tersebut tidak melakukan kesalahan, tidak mungkin Dilan berani memukulnya.
Mungkin tokoh Dilan cuman fiksi. Tapi alhamdulillah, sosok-sosok seperti Dilan telah merangkap menjadi sahabatku dan itu sangat menganggumkan ;D

Banyak pesan yang bisa didapatkan dari novel ini:
*) Jangan menilai seseorang dari luarnya atau mungkin mendengarkan kabar yang beredar. Jika kau tidak tahu apa-apa tentangnya jangan langsung menghakimi.
*) Jika ingin dihargai, hargailah orang lain.
*) Tidak semua orang mempunyai pikiran yang sama denganmu. Apa yang menurutmu terbaik untuknya bisa jadi sangat menyakitinya.

Cerita mereka tidak berhenti sampai ditahun 1990. Masih panjang perjalanan cinta antara Milea dan Dilan. Sangat banyak yang ingin Milea beritahukan kepadamu. Lalu, kisah mereka pun berlanjut.

Tapi biar bagaimanapun, itu adalah harinya, di mana dan kapan pun, setiap aku mengingatnya, aku akan langsung tersenyum.

HEY! YOU! by Pelangi Tri Saki || BOOK REVIEW

Friday, February 5, 2016


Judul : HEY! YOU!
Penulis : Pelangi Tri Sakti
Penerbit : Gramedia Pustaka utama
Editor : Ruth Priscilia Angelina
Desain Cover : Orkha Creative
Terbit : Tahun 2015
ISBN : 978-602-03-1627-7
Tebal : 200 halaman
Harga : Rp. 50.000,-


"KAK ILLO SAYANGGG, BANGUN!!!"

Teriakan dari balkon seberang rumah itu sudah setia menemani hari Zillo sejak bertahun-tahun lalu. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan si bocah upil, Nadira. Cewek yang sudah naksir Zillo sejak mereka masih kecil.

Dan sekarang si bocah upil itu masuk ke SMA yang sama dengan Zillo! Cewek itu mengintilinya ke mana-mana di hari pertama ospek, nekat nyanyiin lagu romantis yang nggak banget di depan semua anak, merusak reputasi Zillo sebagai ketua OSIS tampan dan terkenal. Tahun terakhir Zillo di SMA berubah jadi neraka!

Tapi, apa benar terasa kayak neraka? Kalau semua itu begitu menyebalkan, kenapa Zillo jengkel waktu Nadi ditaksir ketua ekskul karate? Kenapa Zillo kesal waktu sahabatnya sendiri berubah jadi overprotective ke Nadi?

Masa iya dia jatuh cinta sama si bocah upil?!

Terus, gimana kalau ternyata Zillo terlambat jatuh cinta?

***

Didiamkan, apalagi dianggap tak ada oleh orang yang kita sayang memang lebih menyakitkan dibanding orang itu membenci kita. Benci setidaknya menandakan orang tersebut masih memiliki perasaan pada kita.

Ditengah kebingungan untuk mau membaca cerita jenis apa minggu ini... kembalilah membaca teenlit yang aduhai membawa perasaan hihihi. Seperti khas teenlit pada umumnya, menceritakan masa sekolah dan cinta-cintaan ala anak abege. Hey! You! mengadung cerita yang ringan pembawaannya jadi ngga menguras emosi jiwa dan raga deh karena konflik yang ditampilkan.

"...Dia itu kan masih muda, sedang dalam proses mengenali diri dan hatinya sendiri. Apa yang dia mau, apa yang dia inginkan, dan siapa yang dia sayang. Nanti saat dia tau dan ternyata mendapat kemungkinan terburuk, dia akan belajar untuk bertahan dan mulai lagi dari awal."

Tentang Nadi yang selalu menunjukkan cintanya kepada Zillo dengan hal-hal menghebohkan. Memang tidak romantis, tapi sangat manis karena Nadi menunjukkan cintanya tanpa menuntut balasan kepada Zillo. Mulai dari pagi hingga malam, Nadi tak pernah lupa sebagai biang kehebohan di hidup lelaki itu. Walau Zillo selalu menanggapi itu dengan amarah, tetapi semangat Nadi untuk selalu bisa melihat Zillo setiap waktu tak pernah luntur.

"Gue lebih suka dia marah-marah. Karena dengan begitu gue tau dia masih anggap gue ada!"

Zillo selalu mengganggap bahwa Nadi hanyalah bocah yang sedang jatuh cinta, selalu bermain-main dan tidak akan pernah ada keseriusan dalam hidup perempuan itu. Sampai kehadiran Revo mengubah keseharian mereka selama ini.

Revo telah menyukai Nadi saat perempuan itu berhasil mengalahkan anggotanya disuatu perlombaan. Pendekatan yang Revo lakukan, membuat Zillo merasa sudah tersingkirkan dalam kehidupan Nadi. Belum selesai masalah Revo. Lelaki lain hadir kembali...

"Sementara sibuk dengan perasaan lo sendiri, orang lain sibuk mengalihkan perasaan dia."

Noel yang merupakan tetangga Zillo dan Nadi pun tiba-tiba selalu menjaga Nadi sebisa mungkin. Ia tak akan segan memukul Zillo jika berani membuat Nadi menangis. Setiap malam Noel akan menyempatkan diri ke balkon kamar Nadi dan mendengarkan keluh kesah perempuan itu. Dan semua itu terlihat dari jendela kamar Zillo yang memang langsung menghadap ke balkon kamar Nadi. Ada sesuatu yang membuatnya geram dan menahan amarah.

Mengapa para lelaki berebut untuk bisa bersama Nadi sekarang? Mengapa Nadi juga menerima kehidupan lelaki lain selain Zillo untuk melengkapi kesehariannya?

Zillo menyadari, bukan hanya ia yang terluka. Ada suara tangis perempuan disebelah kamarnya, mungkin melihat apa yang sedang Zillo juga pandangi sekarang. Jika ia perempuan, mungkin Zillo sudah kehabisan air mata seperti adiknya itu.

"Untuk patah hati lo ngga harus menemukan fakta dia udah punya pacar atau belum. Tapi kemana hatinya tertuju."

Hey! You! Judulnya awkward banget ya, sama seperti kisah Nadi sih hehe. Tapi kalo dipikir ini kalimat yang Nadi ucapin setiap mau ngegombalin sih Zillo. "Kamu... iya kamu..." sudah ketebak dong itu kalimat komikus siapa :P tapi judulnya membius terdengar seperti menunjuk kita untuk membacanya. hmmm...

Cover berlatar hijau ini menurutku tidak terlalu menarik, mungkin bisa lebih berwarna. Karena cerita dan para tokohnya pun sangat beragam. Bukan ingin menjelekkan, tapi cover berwarna lebih enak dipandang dan rasanya ingin langsung bawa ke kasir aja. Dan lagi-lagi cerita bagus tetapi tidak sebanding dengan cover :( sangat disayangkan.

Lanjut ke konflik, pembahasan masalah sangat dijelaskan dengan baik dan tidak bertele-tele. Walau aku tak mendapat perasaannya saat membaca. Dan juga entah konflik ini terlewat atau dilupakan -aku tidak tahu- tetapi ada satu konflik yang menurutku belum terselesaikan. Tentang perasaan Revo yang lebih mendetail. Tidak dijelaskan, apa yang terjadi atau bagaimana Revo saat Nadi memilih pindah sekolah ke Jerman. Malah mungkin Revo tidak mengetahui kepindahan Nadi. Kehadiran Revo yang terakhir saat diadakan acara sekolah. setelah itu, Revo tidak muncul kembali maupun kelanjutan pendekatannya dengan Nadi akan bagaimana, melupakan-merelakkan-entahlah. Sangat janggal meenurutku.
Tentang tokohnya sendiri, walau sangat banyak tokoh pembantu... tapi mereka semua keren.
Aku sangat suka dengan karakter Nadira. Cewek periang, jago bela diri, ramah, cukup usil dan ia tidak pernah memperlihatkan bahwa ia sedang patah hati atau semacamnya... sangat, sangat, sangat bukan aku banget. Karena itu aku menyukai karakternya. Menurutku ngga melulu harus cewek yang lemah, galau-galauan dan sedih cuma dicuekin. Nadi yang sudah dibentak berkali-kali sama Zillo aja tetep sayang. Duh....

Sedangkan Zillo adalah tipe lelaki pada umumnya, gengsian dan suka menyimpulkan sesuatu sendiri. Banyak pemikiran yang belum tentu benar tapi dia menganggap itulah kenyataannya. Gemes sama cowok kayak giniiiiii.

Alur yang digunakan adalah alur maju dengan POV orang ketiga. Jadi kamu ngga akan dibuat kesel dengan kenapa bisa Zillo seperti cuek bebek gitu? atau kenapa bodoh banget sih Nadi ini? Banyak alasan dengan sifat mereka yang begitu dan bikin "aku mau punya cerita SMA kayak gini, biar suatu saat inget buat bahan ketawa"-kata Noel sih gitu haha.

Kekurangan lainnya adalah penempatan kata "di" yang banyak sekali dipisahkan dengan kalimatnya. Setelah itu typo dan kata yang kurang tepat atau berulang ulang digunakan sangat mengganggu sih, tapi tetap saja. Novel ini cakep euy!

Tidak ada penyesalan baca novel ini... Sosok Nadi sangat menginspirasi sekali untuk mempertahankan apa yang kita cintai tanpa menuntut balasan.

"kamu akan tetap merasa kesepian di tengah keramaian kalau hatimu ngga ada bersamamu saat itu"
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS