Showing posts with label Series. Show all posts
Showing posts with label Series. Show all posts

Arti Keluarga dalam "The Chronicles of Audy: 02" || Book Review

Wednesday, June 22, 2016

The Chronicles of Audy: 02
Orizuka
Penerbit Haru
978-602-7742-86-4
Cetakan pertama, Juni 2016
364 halaman
Rp 71.000

"Keluarga memang lebih baik saat berkumpul. Tapi walaupun tidak berkumpul, keluarga tetap keluarga."

Menjadi bagian dari masa depan seorang remaja berumur 17 tahun, apa yang akan kamu lakukan?

Berkat perkataan Romeo saat pernikah Regan-Maura berlangsung mengakibatkan Rex tiba-tiba saja mengatakan masa depannya berubah. Di masa depannya kelak akan ada Audy, lebih tepatnya, ia sedang melamar seorang Audy Nagisa!
Bukan sampai disitu saja, Romeo yang terbiasa membuat suasana menjadi riang, kini memiliki masalah tanpa ingin berbagi setelah ia sukses membuat Audy harus menjauhi rumah 4R karena ia menyatakan perasaannya.
Tetapi misi sebenarnya adalah, bagaimana membuat Rex-Rafael saling bergantung sama lain, karena mereka saling membutuhkan tapi tampak tak perduli?

Apa yang akan Audy lakukan dengan semua masalah itu?!


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sampailah di perhentian terakhir dengan 4R1A *masih nggak rela*.

Demi apapun Kak Rizka berhasil bikin penutup yang gila-gue-harus-ngomong-apa. Karena walaupun biasa aja, tetapi kalo pembaca yang sudah ngikutin perjalanan 4R1A dari awal sampai nunggu setiap tahun, itu seakan terbayar lunas ketika baca buku terakhir ini.

Masih dengan Rex dan Audy tentang percintaan mereka yang absurd abis, kali ini perjalanan cinta mereka diiringi dengan pernyataan cinta dari Romeo. Uuuwww... Walau bukan pernyataan secara langsung tetapi itu adalah penutupan luar biasa dari buku sebelumnya yang bikin rasanya aku gondokkan nungguin buku ke empat untuk tahu segala jawabannya.

Aku nggak tahu maunya Mas Ro ini apa, diri ini tidak tahu, yang jelas kelemahan Romeo dalam buku sebelumnya nggak ada apa-apanya sama di buku terakhir ini yang dijelasin setuntas-tuntasnya! Romeo sampai insomnia malah butuh obat tidur, tapi dia nggak mau nunjukin itu ke orang lain, kalau sebenarnya dia ada masalah sama batinnya sendiri. Bukan berarti gila... lebih tepatnya dia susah untuk mengikhlaskan sesuatu, hingga perang batin deh.

Pembukaan yang manis di halaman awal rasanya makin nggak sanggup kehilangan. Apalagi kalau ingat-ingat ini adalah buku terakhir. Jadi ada rasa nggak mau baca buku ini cepat-cepat tapi juga penasaran gimana kelanjutannya. Dan akhirnya aku deh yang perang batin karena lanjut-ngga-lanjut-ngga hehe.

"Itu karena aku nggak merasa ada yang salah dengan hubungan kami," kata Rex lagi, "Dia boleh nggak menyukaiku dan aku nggak akan memaksanya untuk berubah pikiran."

Masih ingat dengan Rex yang akan berangkat ke Amerika? Mungkin di buku sebelumnya, Audy galau kayak remaja gitu dan ngga dapat apa-apa dari kegalauanya. Tetapi di sini Audy mengalami perubahan, menjadi seperti-mario-teguh-sedikit. Dia lebih bijaksana dan tahu segala keputusan yang bakal ia ambil. Walaupun masih cemburu ala anak abege, tetep aja Ajeng ngga ada apa-apanya sama Audy!
Dan Maura, sang malaikat tanpa kekurangan... Ternyata kekurangannya dia baru ditunjukkan di sini juga.
Dan semakin kerasa banget, kalo semua tokoh memang dibuat seakan-akan nyata *rasanya dirini ingin menangis*.

Ngomong-ngomong ada kejadian yang aku bener-bener larut dalam suasana yang terjadi, seperti rentetan film saat ngebayangin. Disaat 4R1A beserta Maura ngeliat cuplikan video waktu Rex lahir sampai ulangtahun yang ke-lima. Rasanya perasaan dicampur adukkan dalam suasana ini. Mau nangis, tapi senyum waktu ngebayangin Rex kecil, khawatir juga pas pertama kali Rex sakit, dan yang terakhir terenyuh banget waktu Regan sama Romeo bilang, mereka bakal jagain Rex padahal mereka suka cuek bebek sama adiknya itu. Sedangkan Rafael yang nggak tahu apa-apa tapi dia fokus banget nontonin videonya, dan ini makin buat aku mau nangis...
Nggak ada kekurangan dalam cerita, footnote sudah oke. Cuman, antara Maura dan Rafael nggak ditunjukkan kalo mereka sudah akrab. Hanya melalui cerita dari Romeo kalau Maura-Rafael sedang melakukan sesuatu bersama, tetapi nggak dipandangan Audy. Sampai di akhir pun nggak ada percakapan fisik yang menunjukkan kalo mereka sudah akrab -banget-.

Terakhir, aku banyak nemuin amanat dalam cerita ini. Dari mulai buku yang pertama sampai yang ke empat sekarang, rasanya setiap permasalahan yang terjadi punya amanatnya masing-masing yang diriku bingung untuk menuliskan yang mana hehe. Tapi, aku akan mengutip dari perkataan Audy yang menurutku sudah menjelaskan tentang 4R1A dan... jujur, aku masih satu hati dengan tokoh idolaku, Mas Ro yang susah mengikhlaskan. Diriku belum rela harus berpisah dengan mereka!
"Seperti oksigen, keluarga ada di sekitarmu, di setiap tarikan napasmu, mengalir dalam darahmu. Walaupun kamu nggak selalu bisa lihat, tapi kamu tahu keluarga selalu ada bersama kamu. Ya kan?"

Keretakkan 4R Dalam "The Chronicles of Audy: 4/4" || Book Review

Sunday, June 19, 2016

The Chronicles of Audy: 4/4
Orizuka
Penerbit Haru
978-602-7742-53-6
Cetakan pertama, Juni 2015
Cetakan kedua, Juli 2015
314 halaman
Rp 59.000

“Aku memang tidak mau melihat 4R pergi. Namun, aku lebih tidak ingin melihat 4R tinggal tapi menderita."


Walaupun tidak lagi tinggal satu atap dengan 4R, tetapi Audy tidak bisa melupakan mereka begitu saja. Setiap pagi, ia harus menjemput Rafael untuk mengantarnya ke PAUD Ceria karena salah satu dari kakaknya tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Jarak antara rumah dan kos-kosan terbilang cukup dekat. Regan sengaja memilihkannya untuk bisa mengunjungi rumah 4R setiap hari.

Semua berjalan normal, Romeo masih sibuk dengan deadline pekerjaannya, Regan sibuk dengan Maura, Rafael sibuk dengan kejeniusannya dan Rex sibuk dengan skripsi Audy.

Sampai akhirnya masalah pelik muncul kembali bertubi-tubi; Rafael dikeluarkan dari sekolah, Regan sibuk mempersiapkan pernikahannya, Rex melanjutkan studinya ke MIT, dan yang terakhir Romeo harus keluar dari zona nyamannya.

Berkat itu semua, mereka tercerai-berai dengan pikiran masing-masing, ditambah Regan membawa beban tidak hanya kepada 3R, tapi juga pada dirinya. Karena mereka harus pergi ke tempat yang lebih baik. Artinya, Audy harus merelakkan hidup jauh dari 4R.

Wow, dalam waktu sesingkat-singkatnya dan secepat-cepatnya, aku menyelesaikan novel 4/4 dan langsung membuat review-nya (berasa dikejar depkolektor).

Aku menutup buku ini tidak seperti seri sebelumnya, mau nangis terharu tapi kelihatannya itu memalukan. Aku dipermalukan sebuah novel, sial :( dan pertama kalinya endingnya sedikit... Gantung! Bukan, penasaran! Ah tau deh, pingin cepetan lanjut baca diriku bertanya-tanya....

Mengangkat masalah dari cerita sebelumnya, tentang “pernyataan cinta terhadap Audy Nagisa” yang belum selesai dan tidak akan selesai. Ternyata masalahnya lebih pelik daripada mengajarkan Rafael kesopanan.

Aku lupa mereview di awal seri, jadi cerita 'The Chronicles of Audy' ini setiap pembukaan bab baru munculnya bukan bab 1, bab 2, melainkan kayak outline skripsi --dan aku sendiri baru pertama kali ngeliat di novel ini.
Nah, di outline skripsi seri ke tiga ini beda sama yang terdahulu. Kalo yang dulu, selalu ngebahas tentang keluarga dan segala keluguan Audy, di seri ke tiga ini, pernyataan cinta terhadap Audy Nagisa sampai dia layak nggak buat salah satu dari 4R.

Ketebak dong, percintaan di sini tambah kental banget? Yap! Pasti akan mengira begitu, tapi salah besar deh. Kalo tokohnya romantis, mungkin bisa mendukung. Tapi ini sudah remaja, labil, dingin, jenius, cuek bebek, seketika aku ingin berkata ‘Audy bisa apa, Rex? BISA APA?!’

A: "Aku... salah satu orang yang nggak bisa ngerjain soal logaritma mudah itu."
R: "Tapi kamu satu-satunya orang yang pengin aku ajarin soal logaritma itu."

Rasanya diri ini mau menangis saja kalau ngeliat mereka berdua kelai karena cemburu sama nggak peka. Tapi mereka nggak pernah ngomong sefrontal gitu, aku geram sendiri bacanya. Kok ya bisa gitu nah, mba Rizka menciptakan dua tokoh ini untuk saling menyukai? Lucu sih, geli geli kalo ngeliat mereka udah adegan norak-versi-audy. Tapi juga sebel kalo sudah marahan, yang satu lempeng yang satunya lagi pasrah.
Tapi ngeliat respon pembaca yang lain, pada ngeship sama mereka berdua sih, memang cocok. Nggak mungkin kan Rafael yang sama Audy. Itu bakalan awkward kalo kata Rafael.

Untuk yang kali ini, di seri ketiga sudah mulai banyak memakai footnote, beberapa istilah yang ada di seri pertama juga masuk di dalam cerita ini dan diberi penjelasan, Alhamdulillah. Tapi, di sini malah muncul typo, nggak banyak sih, maklumin aja karena sudah tertutupi dengan cerita yang apik tenan!

Aku masih tetap pada pendirianku untuk mengidolakan Mas Ro. Sebelumnya aku sudah membeberkan sifatnyakan?
Nah kali ini aku mau kasih tau, kalo Romeo itu nggak sperti itu. Dia seperti banyak yang dibilang orang, kalo bahagia di luar belum tentu sama kayak yang dirasain.
Kurang lebih seperti itu. Dia banyak punya trauma, dan aku bener-bener ngerasa kalo Romeo ini nyata! Saking nyatanya, aku pingin peluk dia dan bilang, kalo dia juga masih punya fans kayak aku kok /plak.
Dan pas di akhir cerita. Wow, wow, wow, akan ada sesuatu yang membuat terkejut. Aku sendiri nggak sabar untuk lanjut ke seri ke empat. Karena Romeo mengibarkan bendera perang bung! Penasaran? Sama, diri ini juga.

Dan tepat di bagian akhir juga --bukan, dipertengahan asal mulanya-- Romeo adalah kesayangan para ibu.
Aku baca ini geli sendiri, kok bisa ibu-ibu. Tapi ya gitu, karena Romeo paling ramah dari 4R, pasti ibu-ibu tertujunya sama yang muka ceria ditambah ganteng kan, jadinya tertuju ke Romeo. Asli, humor aku memang receh. Tetapi cerita ini nggak recehan!

Mungkin dia bukan orang yang mampu memecahkan masalah, tetapi dia selalu menerima, selalu mencari alasan untuk menerima, selalu mencari cara untuk menerima semuanya, tanpa mengeluh.

Last but not least, kak Rizka memang nggak asal buat cerita. Memang bener-bener dipikirin! Aku sudah cukup salut dengan seri kedua dan tambah salut ke seri ketiga. Karena rasa penasaran ku --dan semua orang-- terbayarkan, Rex itu jenius, IQ-nya sendiri 152! Tetapi kenapa masih SMA?! Kenapa ngga ikutan akselerasi atau semacamnya?!

Di sini, kak Rizka bilang, melalui Rex, kalo dia malah sudah bisa lulus kuliah. Tetapi dia mau ngikutin cara orangtuanya, untuk bisa berbaur dengan teman-teman sebaya, tetapi itu sebenarnya nyiksa dia.
Dan disini aku baru paham, kenapa orang jenius itu susah bergaul, karena mereka butuh teman yang paham sama apa yang mereka bicarain (dan diriku anaknya lemot banget, pantesan ngga bisa punya temen kayak Rex /dor).

Rasanya novel ini juga mewakili perasaan anak jenius, kalo selamanya mereka nggak seperti yang dibangga-banggain banyak orang. Mereka susah buat berinteraksi apalagi nyari sekolah :’)

Kita mlipir ke seri terakhir, nggak sanggup harus berpisah... "The Chronicles of Audy: 02" masih bisa dilanjutin nggak? /plak.
Konsep ini begitu baru bagiku, tapi terasa nyaman dan hangat walaupun aku tahu aku akan kehilangan mereka.

Pernyataan Cinta Terhadap Seorang Audy Nagisa Dalam "The Chronicles of Audy: 21" || Book Review

Saturday, June 18, 2016

Judul: The Chronicles of Audy: 21
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Penyunting: Tia Widiana
Cover desaigner dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader: NyiBlo
Terbit: Juli 2014
ISBN: 602-774-237-2
Jumlah: 308 Halaman
Harga: Rp 59.000

Kali ini, Audy tinggal di rumah 4R dengan status yang berbeda. Ia tidak lagi menjadi babysitter-garis-miring-pembantu tetapi ‘bagian dari keluarga’.

Awalnya semua berjalan sama seperti dulu, hingga saat salah satu dari 4R menyatakan perasaannya kepada Audy.
Belum cukup hal yang mengejutkan datang, tiba-tiba Maura, calon istri Regan bangun dari koma yang dialami selama 2 tahun.
Yang lebih tidak diduga Audy, satu persatu dari 4R menunjukkan kekurangannya.

Audy mencoba merubah mereka menjadi lebih baik, bukankah itu ‘bagian dari keluarga’?
Setidaknya itu yang dikatakan Regan, saat memohon dirinya untuk tinggal kembali di rumah 4R.


"Cinta bisa membuat orang tergenius sekalipun jadi gila!"

Selamat liburan buat anak sekolah! Hip hip hore!
Akhirnya bisa lancar buat nge-blog lagi, saat bulan lalu sama sekali nggak ada isi post’an karena sibuk-sibuknya ulangan harian sama kenaikan kelas /sok sibuk banget/

Nah, setelah memendam diri ini entah di mana, aku masih --atau sangat-- teringat utang reviewku buat Tantangan Membaca Haru, #tbh aku baru mulai baca cerita dari penerbit Haru bulan ini.

Seperti review sebelumnya, kali ini masih dengan The Chronicles of Audy. Yey!
Aku mulai dari sampul, seri kedua membawa warna biru muda, setidaknya begitu pada sisi glitter, I love it! Tapi pas di sampul malah biru tua dan tulisannya warna hitam jadi kurang kebaca gitu. Sayang banget, ya kalo bisa sih biru yang nggak terlalu tua yang penting dari jauh dapet kebaca.

Kok sampulnya gambar kapal tapi di bagian sinopsis bertebaran kubik-rubik? Jadi, di cerita ini ada bagian saat Rafael ngajarin Audy main kubik-rubik. Pokoknya manis banget deh pas Rafael serius banget ngajarin Audy sampai akhirnya dia ketiduran gitu. Aku nggak sanggup bayangin ada anak kecil lucu, jenius, ganteng pula serius ngajarin sesuatu sampai tidur. Gemes sendiri diri ini /plak.

Selanjutnya, tokoh. Dari seri sebelumnya, banyak perkembangan berarti di seri kedua ini. Semua tokoh semakin ditonjolkan. Kalo di buku yang pertama aku hanya dapet sosok Regan dan Romeo. Di sini aku dapet mereka semua, ya walaupun Regan tidak terlalu karena dia lagi sibuk dengan sang kekasih /dor.

Dan masih sama dengan genre family bercampur comedy, di seri kedua juga menampilkan romance yang bukan sebagai pelengkap kayak di seri pertama. Di seri kedua ini, dimunculkan banget, karena sudah kebaca dari sinopsis. Dan berhasil tambah bikin aku geli sendiri. Sakit hatinya makin kerasa, apalagi ada acara sinetron segala (ini Romeo yang mengusulkan). Meskipun begitu, kak Rizka masih berkomitmen untuk tetap di family loh, karena kalau terfokus di romance, kasihan 3R lainnya.

“Lagi pula, keluarga nggak semestinya punya perasaan suka, dalam artian… suka, suka, kan?”

Terus ke tokoh favorit, masih sama dong. Mas Romeo Rashad. Setelah aku bingung untuk menyampaikan alasan kenapa aku bisa menyukai tokoh ini, padahal dari seri pertama aja sudah dikatakan kalo dia itu jorok dan jarang mandi. Aku menemukan jawabannya dari kutipan Audy /nggak nyolong ah, ini satu hati sama Mba Audy /maksa
"Dia punya kemampuan untuk menyesuaikan diri dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman."

Biar lebih diperjelas, Romeo ini anaknya friendly gitu. Dari 4R cuman dia yang ramah, Regan sih juga ramah, tapi terlalu tegas. Terus Romeo dia nggak nyusahin, dia masa bodo sama ucapan orang tentang dirinya, dan yang paling penting, dia hidupnya santai kayak berjemur di pantai. Bener-bener deh Romeo, dia malah bilang, ‘jangan lupa, kalo kamu stres, ada aku.’ tuh mikirin perasaan orang banget kan? Bener-bener nggak salah deh idolain Mas Romeo walau jarang mandi hahaha.

Dan kalo baca reviewku sebelumnya, aku selalu ngakak di bagian Audy dan Romeo kelai. Nah Audy tuh selalu marah sama Romeo karena ngajarin Rafael tanpa sengaja yang nggak bener. Kayak majalah playboy dan entah mengapa Mba Rizka di dalam novel ini masukin nama artis Megan Fox, Demi Lovato, Californian girl, sampai Kardashian sekeluarga. Dan Rafael nyanyi lagu 'Call Me Maybe'. Oh-my-god.
"Terima kasih lho, Romeo Rashad dan playlist iTunes-nya."-Audy
Oh, yang paling kutunggu, mungkin di seri selanjutnya bisa masukin taysquad! Hahaha . Kalo 4R ini cewek, ketebak isinya bakal fangirl deh.
Ini seri ke dua, berarti harus baca seri yang pertamanya dulu kan? Kalau bisa kubilang, nggak juga. Karenaaaaa, di bagian awal ada sisipan penjelasan dari seri yang pertama, malah saat konflik yang ada di seri pertama juga dimasukin saat di bagian tengah di cerita ini. Tapi nih tapi, seperti katanya Kak Rizka saat aku baca di ‘thanks to’ lebih afdol kalo baca yang pertama, biar kerasa bapernya kalo beranjak ke seri kedua!

Karena cerita ini berseri, aku cukup salut buat Kak Rizka yang sangat mateng memikirkan ide cerita. Dari seri pertama lanjut yang kedua itu masih nyambung banget! Kayak keterikatannya itu nggak diputus gitu aja. Bener-bener salut deh sampai plot twistnya nggak kebayang.

“Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa hidup."

Aku sedikit cerita di atas waktu Rafael ketiduran ngajarin Audy main kubik-Rubik, tapi sebelum itu terjadi, si Rafael lagi merajuk sama kakak-kakaknya, karena Audy bakalan mau pindah (lagi). Di sini aku mau nangis rasanya, liat perkembangan Rafael. Waktu awal dia jahat banget sama Audy sampai akhirnya malah nggak mau ngelepasin Audy. Kejadiannya itu berasa nyata banget di aku, apalagi si Rafael sampai teriak-teriak ngga terima. Hati ini terenyuh membacanya /dor. Aku nggak bohong. Feelnya kerasa banget, anak kecil kalau lagi merajuk dan nggak paham sama masalah sebenarnya itu memang susah. Tapi Rafael, sumpah... Jadi adek aku, yuk? /eh

Tentang kekurangan masih sama seperti seri terdahulu, banyak kalimat asing atau baku lebih tepatnya. Dan nggak ditaruh footnote, jadi hanya mampu menerka-nerka. Harus rajin-rajin buka kamus sih hmmm.
Pada halaman 183 terdapat kalimat “OOT” tanpa penjelasan apapun. Dan aku sendiri baru tahu kalimat OOT kurang lebih sebulan yang lalu karena masuk di grup penulisan. Jadi OOT itu Out of Topic. Keluar dari topik pembicaraan yang lagi diomongkan.

Yap! Segitu dulu review tentang The Chronicles of Audy: 21 aku mau berlanjut ke The Chronicles of Audy: 4/4. Sayonara!
"Aku harus memberinya pengertian dan tidak boleh memberinya harapan. Aku harus menolak perasaannya, demi diriku sendiri, juga keluarga ini."

Kesialan Seorang Audy Nagisa dalam "The Chronicles of Audy: 4R" || Book Review

Thursday, June 16, 2016

The Chronicles of Audy : 4R
By Orizuka
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
ISBN 978-602-7742-21-5
Cetakan pertama, Juli 2013
Cetakan keempat, Juli 2014
320 Halaman
Rp 56.000

Apa yang kamu rasakan saat gelar yang sudah kamu tunggu bertahun-tahun kini di depan mata tapi terkendala kondisi keuangan?
Itulah yang dialami oleh Audy Nagisa, seorang mahasiswi dari Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada.
Semua mimpi-mimpinya tinggal selangkah lagi, tetapi musnah saat kedua orangtuanya terjerat sesuatu yang mengakibatkan ia harus hidup berkecukupan, hingga menunggak uang kos berbulan-bulan.

Audy memang memiliki sahabat, Missy, yang akan membantunya. Tetapi Audy bertekad untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri selama di Yogykarta hingga menjadi seorang babysister di rumah keluarga 4R.
Semuanya terlihat jelas, Audy hanya tinggal mengasuh seorang bayi lucu dalam waktu 15 jam dengan bayar gaji dimuka! Sampai akhirnya Audy merasa tertipu dan terikat dalam satu waktu dengan 4R.

Regan, Romeo, Rex dan Rafael. Mereka semua memiliki sifat yang berbeda-beda hingga Audy merasa tertekan, tetapi ada satu pertanyaan dalam benak Audy. Ada apa dengan kehidupan 4R ?!


Jujur! Bukan cuman Audy yang tertipu dengan keluarga 4R, diri ini pun tertipu dengan sinopsis dari kronik Audy Nagisa. Selesai baca aku cuman bilang, ‘turut berduka, Audy’ /dorr. Tetapi aku ngga nyesel karena sudah bawa novel ini ke kasir, ceritanya bikin nagih. Dan untuk jujur yang kedua kalinya, saat menulis review novel ini artinya aku sudah membaca novel ‘The Chronicles of Audy: 4R’ tiga kali! Tiga kali dengan euforia yang sama.

Mungkin banyak yang bilang, kalo kita nggak bakal tertawa dilelucon yang sama berkali-kali. Tapi novel ini berhasil bikin aku masih ketawa geli, geram malah perasaan sedihnya masih dapat (walau aku sudah tau diadegan yang mana).

Terus gaya bahasa yang digunakan, (rasanya ini kiblatku dalam menulis) ringan gitu, kita bacanya nggak perlu mikir berkali-kali, ngalir kek air ikutin aja jalan ceritanya. Santai banget lah, padahal ini pertama kalinya aku baca buku Kak Rizka --dan ini adalah buku ke 20 nya-- aku langsung jatuh hati dan nggak kapok untuk baca yang lain!

Ngomong-ngomong, sampulnya memang simple banget, warna coklat kayak serta-serat gitu sih. Tapi yang bikin menarik karena ada glitter merah mudanya di sisi-sisi novel. Aku suka! Dan ternyata berhasil mendapat penghargaan Anugerah pembaca Indonesia nominasi untuk sampul buku fiksi terfavorit(2013) Uwo!!!

Oke, lanjut ke bagian cerita, pertama-tama aku akan mengenalkan Audy Nagisa. Perempuan 22 tahun. Dan hidupnya penuh cobaan. Ini serius loh, Kak Rizka bener-bener nyiksa tokoh Audy!

Setelah itu, Regan Rashad. Lelaki berumur 26 tahun. Pengacara. Anak pertama. Tegas tapi ganteng /yaampun diri ini lemah, saat ngebayangin dia pulang kerja, lepas jas gulung kemeja/

Kemudian, Romeo Rashad. Lelaki berumur 22 tahun. ‘Hacker, cracker, gramer, you name it’. Oh aku suka banget sama karakter ini. Entah kenapa aku pingin punya hidup kayak Romeo, enak banget deh! Harus baca biar tahu kenapa aku bangga sama Romeo yang padahal ngga jelas --atau mungkin hanya aku pembaca yang jatuh hati dengan sifat absurdnya Romeo.

NEXT!!! Rex Rashad. Oke, hampir semua pembaca jatuh hati dengan tokoh ini. Gimana nggak? Masih 17 tahun. Jenius. Dingin. Uuuw… siapa yang nggamau ketemu tokoh cowok kayak gini, hayo?

Terakhir, anak kecil yang sudah dewasa sebelum umurnya, Rafael Rashad! Umur 4,5 tahun tapi sudah tahu kepanjangan UNICEF (sampai sekarang aja diri ini nggatau kepanjangannya apa /dorr) jangan kaget ketemu anak kecil kayak gini! Di dunia nyata ada banyak sosok kayak Rafael.

"Sebenarnya, aku sadar kalau kamu..., punya perasaan sama aku," katanya, membuatku terperanjat. "Aku ngga bisa melarangmu, tapi..., aku juga nggak bisa membalasnya."

The Chronicles of Audy bergenre family dengan comedy. Cinta-cintaan hanya sebagai pelengkap biar manis-manis dikit, tapi menurut aku sih sudah manis kenal 4R hehehe. Jangan mentang-mentang ‘ah, ngga ada romancenya apa yang menarik’ justru lebih ngga menarik kalau kamu kelewat baca cerita ini! Trust me. Mereka menyimpan banyak rahasia loh...

Tokoh-tokoh di dalam cerita ini terlihat nyata, mereka nggak dibuat sesempurna itu. Walau aku deskripsikan mereka sempurna, tetapi mereka layaknya manusia butuh ketakutan, kehilangan, kerapuhan, dsb. Menurutku saat diberitahukan kekurangan mereka, itu nggak terdengar informatif, sama sekali nggak! Malah aku ngerasa Audy lagi cerita sama aku. Ketangkep banget jadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari! Benar-benar dibuat terasa nyata semuanya...

Apa di cerita ini cuman agar kita tahu, bagaimana keluarga 4R?! absolutely no! Seperti yang kubilang kalau mereka banyak rahasia, dan kebenarannya diungkapkan dengan perlahan satu persatu. Kamu juga pingin tahu dong, 'bagaimana kehidupan Audy dengan gelar sarjananya yang tinggal selangkah lagi?' Atau mungkin ‘gimana rasanya tinggal bareng 4 cowok ganteng?’ Berhasil dibuat bertanya-tanya dalam setiap halaman. Rasanya nggak rela nutup buku ini tanpa tahu setiap akhir permasalahan.
Selanjutnya, adegan yang bikin aku ngakak, (oke, selalu ngakak malahan) saat Romeo bertemu Audy dalam satu scene. Mereka selalu kelai yang nggak penting. Apalagi awal mereka ketemu karena kesalapahaman yang nggak banget. Kocak deh asli! Pembodohan, apalagi ngebayangin muka bloonnya mereka berdua.

Setelah aku menceritakan, kesempurnaan dari cerita ini. Aku ingin memberitahu sedikit kekurangan, banyak banget singkatan-singkatan yang kurang kupamahi, kata-kata asing, malahan terdapat bahasa jawa yang ngga semua orang paham, lebih baik kalau bisa semua itu dikasih footnote --atau mungkin, aku yang kurang jenius hahaha.

Last but not least! Ini adalah seri pertama dari The Chronicles of Audy. Jadi, kisah Audy bersama 4R akan berlanjut di ‘The Chronicles of Audy: 21’ Sampai jumpa di review selanjutnya!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS