Showing posts with label young adult. Show all posts
Showing posts with label young adult. Show all posts

[REVIEW] Everything Everything - Nicola Yoon

Saturday, November 26, 2016


Judul: Everything Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerbit: Penerbit Spring
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Terbit: Oktober, 2016
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-602-74322-5-3
Harga:

"Di dalam kepalaku aku tahu aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi rasanya tidak seperti ini. Jatuh cinta padamu jauh lebih baik dari yang pertama kali. Rasanya seolah ini yang pertama dan terakhir dan sekaligus satu-satunya." hlm.240

Madeline Whittier, perempuan berumur 17 tahun yang mengidap penyakit SCID --server combined immunodeficiency-- dan membuatnya tidak pernah merasakan dunia luar. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menghirup udara di alam terbuka, menginjak rumput, merasakan suasana pantai, bahkan merasakan sinar matahari secara langsung. Semua itu tidak bisa ia lakukan karena kekebalan tubuhnya yang rentan diserang virus dengan berbagai reaksi yang ditimbulkan, bahkan bisa menyebabkannya meninggal.

Seumur hidupnya, ia telah dirawat oleh seorang wanita gemuk bernama Clara. Bukan sebagai perawat saja, Clara sudah seperti teman di kehidupan Madeline. Mungkin ia adalah anak baik yang tidak pernah menceritakan sebuah kebohongan pada siapapun. Tapi akhirnya, Madeline harus menyembunyikan sebuah fakta dari ibunya dan memilih untuk menceritakan segala keresahan itu pada Clara.

Siapa lagi yang ia bicarakan selain anak lelaki yang merupakan tetangga barunya itu. Oliver Bright yang biasa dipanggil Olly. Kehidupan Madeline yang terlalu monoton seketika berubah dengan kehadiran lelaki yang gemar memakai baju hitam dengan topi rajutnya.

Semua tidak sama lagi, lelaki itu penasaran dengan kehidupan Madeline. Apa yang terjadi pada perempuan seusianya dikurung di dalam rumah tanpa pernah ia liat keluar sekalipun?

Akhirnya Madeline melakukan aksi diluar zona amannya. Ia meminta Clara untuk membawa masuk Olly ke dalam rumah, keluar dari kediamannya untuk melihat keadaan Olly, bahkan ia nekat kabur untuk ke Hawai!

Sekarang, apa cinta sudah membuatnya menjadi gila hingga mempertaruhkan nyawa?


"Mungkin aku memupuk harapan bahwa suatu hari nanti, entah kapan, keadaan akan berubah." hlm.19

Ini terlalu cepat untuk menyimpulkan sesuatu, padahal aku baru bertemu dengan kisah Madeline sekitar tiga hari yang lalu. Tapi aku benar-benar ingin mengatakan, "AKU TERTIPU DENGAN SEMUANYA!" dalam artian yang cukup baik.

Aku tidak habis pikir, banyak kejanggalan yang akhirnya membuatku bertanya-tanya dan menyimpulkan mungkin pemikiranku benar. Dan tebak? itu memang benar tapi aku masih tidak yakin hingga akhir halaman.
Kenapa bisa seperti itu? Apa itu tidak terlalu aneh?

1) Ibu Maddy, aku selalu merasa ia bisa saja melakukan malpraktek meskipun tidak sedang membedah seseorang. Tapi dia adalah dokter dan tidak seharusnya mengalami hal itu selama 17 tahun lamanya.
2) Bagaimana kabar ayah Olly? atau keluarga Olly?
3) Mengapa di tengah-tengah halaman terdapat satu bagian POV orang ketiga dari Olly? Padahal cerita ini menggunakan POV pertama dari Maddy.
4) Setelah itu, mengapa Maddy sangat tahu kehidupan keluarga Olly? bahkan apa yang dibicarakan oleh keluarga itu di dalam rumah dapat Maddy dengar... apa ia menaruh penyadap suara di rumah itu?
5) Bagaimana cara dokter yang menangani Maddy di Hawai bisa mengabarinya melalui E-mail? Malah repot-repot mencari tahu tentang penyakit Maddy.
6) Bukankah Clara juga selalu mengecek kesehatan Maddy, mengapa ia tidak pernah merasa ada yang aneh dengan perempuan itu?
7) Teman Laboratorium yang merangkul pundak Olly di depan rumahnya. Tidak diperjelas. Seperti kecemburuan untuk Maddy yang numpang lewat.
8) Apa kalimat ini benar adanya? Suatu kebetulan yang unik.
"kita bahkan belum membahas hiu putih atau buaya air asin atau ikan pembunuh di Laut Indonesia atau--" hlm.83
9) Aku sedikit tidak tega pada bagian akhir. Aku tahu yang dilakukan ibu Maddy sangat jahat hingga merampas kehidupan bebas anaknya selama 17 tahun, tapi apa salahnya Maddy menerima maaf itu? Seperti yang dikatakan Clara...
"Luangkanlah sedikit waktu bersama ibumu. Pacar datang dan pergi tapi ibu adalah milikmu untuk selamanya." hlm.122

Sejujurnya novel ini adalah novel kedua yang kubaca dari Penerbit Spring setelah To All The Boys I'loved Before. Dan menurutku, terjemahan di dalam buku ini tidak terlalu berantakan tapi masih sedikit membingungkan di beberapa bagian.

Aku hampir tidak masuk ke dalam zona antara Maddy dan Olly saat di ruang matahari ketika mereka sibuk melakukan aksi 'berdiri dengan satu tangan'. Entah itu memang berasal dari penulisnya atau berdasarkan terjemahan, yang jelas aku kurang memahami hingga membuatku harus membaca berulang-ulang kali. Dan banyak menemukan kalimat yang kurang efektif.

"Olly mengarahkan kami ke pasir yang kering dan menemukan tempat untuk duduk." hlm.247
Seharusnya penggunaan 'kami' diganti dengan '-ku' karena 'kami' menjuru lebih dari satu orang sedangkan Olly hanya menarik tangan Maddy, tidak ada lagi.

Tapi semua itu tertutupi dengan cerita Maddy yang membuatku sepertinya selalu menahan nafas ketika ia melakukan kegilaan. Bagaimana bisa perempuan ini sangat sabar sekali dan tidak mengeluh tentang apapun? Seakan-akan penyakitnya itu adalah alur kehidupan yang memang seharusnya ia jalani.

Percayalah, novel ini mengajarkan masalah seberat apapun, masih ada orang lain yang memiliki masalah lebih berat dan tidak mengeluh. Jadi, dari sekarang kalau kamu banyakan mengeluh sama masalah itu, coba pikir... apa dengan mengeluh masalahmu akan selesai?

Aku banyak belajar dari Maddy, meskipun dia sedikit rese karena bookreview yang tukang spoiler novel terkenal tetapi, ia perempuan yang berani dalam mengambil resiko! Luar biasa!

Dua puluh lima kata cepat untuk Penerbit Spring:
COVER NOVELNYA SANGAT CANTIK DAN MENARIK. SEPERTI MEMILIKI NOVEL FANTASI! PADAHAL INI ADALAH NOVEL ROMANCE YOUNG ADULT. TERIMA KASIH TELAH MENERBITKAN NOVEL SE'KECE' INI... LAFLAFLAF!

"Bagi kami, bisa bertemu, jatuh cinta, punya kesempatan untuk bersama-sama adalah sesuatu yang jauh dari apa yang pernah kami kira bisa terjadi." hlm. 246

Arti Keluarga dalam "The Chronicles of Audy: 02" || Book Review

Wednesday, June 22, 2016

The Chronicles of Audy: 02
Orizuka
Penerbit Haru
978-602-7742-86-4
Cetakan pertama, Juni 2016
364 halaman
Rp 71.000

"Keluarga memang lebih baik saat berkumpul. Tapi walaupun tidak berkumpul, keluarga tetap keluarga."

Menjadi bagian dari masa depan seorang remaja berumur 17 tahun, apa yang akan kamu lakukan?

Berkat perkataan Romeo saat pernikah Regan-Maura berlangsung mengakibatkan Rex tiba-tiba saja mengatakan masa depannya berubah. Di masa depannya kelak akan ada Audy, lebih tepatnya, ia sedang melamar seorang Audy Nagisa!
Bukan sampai disitu saja, Romeo yang terbiasa membuat suasana menjadi riang, kini memiliki masalah tanpa ingin berbagi setelah ia sukses membuat Audy harus menjauhi rumah 4R karena ia menyatakan perasaannya.
Tetapi misi sebenarnya adalah, bagaimana membuat Rex-Rafael saling bergantung sama lain, karena mereka saling membutuhkan tapi tampak tak perduli?

Apa yang akan Audy lakukan dengan semua masalah itu?!


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sampailah di perhentian terakhir dengan 4R1A *masih nggak rela*.

Demi apapun Kak Rizka berhasil bikin penutup yang gila-gue-harus-ngomong-apa. Karena walaupun biasa aja, tetapi kalo pembaca yang sudah ngikutin perjalanan 4R1A dari awal sampai nunggu setiap tahun, itu seakan terbayar lunas ketika baca buku terakhir ini.

Masih dengan Rex dan Audy tentang percintaan mereka yang absurd abis, kali ini perjalanan cinta mereka diiringi dengan pernyataan cinta dari Romeo. Uuuwww... Walau bukan pernyataan secara langsung tetapi itu adalah penutupan luar biasa dari buku sebelumnya yang bikin rasanya aku gondokkan nungguin buku ke empat untuk tahu segala jawabannya.

Aku nggak tahu maunya Mas Ro ini apa, diri ini tidak tahu, yang jelas kelemahan Romeo dalam buku sebelumnya nggak ada apa-apanya sama di buku terakhir ini yang dijelasin setuntas-tuntasnya! Romeo sampai insomnia malah butuh obat tidur, tapi dia nggak mau nunjukin itu ke orang lain, kalau sebenarnya dia ada masalah sama batinnya sendiri. Bukan berarti gila... lebih tepatnya dia susah untuk mengikhlaskan sesuatu, hingga perang batin deh.

Pembukaan yang manis di halaman awal rasanya makin nggak sanggup kehilangan. Apalagi kalau ingat-ingat ini adalah buku terakhir. Jadi ada rasa nggak mau baca buku ini cepat-cepat tapi juga penasaran gimana kelanjutannya. Dan akhirnya aku deh yang perang batin karena lanjut-ngga-lanjut-ngga hehe.

"Itu karena aku nggak merasa ada yang salah dengan hubungan kami," kata Rex lagi, "Dia boleh nggak menyukaiku dan aku nggak akan memaksanya untuk berubah pikiran."

Masih ingat dengan Rex yang akan berangkat ke Amerika? Mungkin di buku sebelumnya, Audy galau kayak remaja gitu dan ngga dapat apa-apa dari kegalauanya. Tetapi di sini Audy mengalami perubahan, menjadi seperti-mario-teguh-sedikit. Dia lebih bijaksana dan tahu segala keputusan yang bakal ia ambil. Walaupun masih cemburu ala anak abege, tetep aja Ajeng ngga ada apa-apanya sama Audy!
Dan Maura, sang malaikat tanpa kekurangan... Ternyata kekurangannya dia baru ditunjukkan di sini juga.
Dan semakin kerasa banget, kalo semua tokoh memang dibuat seakan-akan nyata *rasanya dirini ingin menangis*.

Ngomong-ngomong ada kejadian yang aku bener-bener larut dalam suasana yang terjadi, seperti rentetan film saat ngebayangin. Disaat 4R1A beserta Maura ngeliat cuplikan video waktu Rex lahir sampai ulangtahun yang ke-lima. Rasanya perasaan dicampur adukkan dalam suasana ini. Mau nangis, tapi senyum waktu ngebayangin Rex kecil, khawatir juga pas pertama kali Rex sakit, dan yang terakhir terenyuh banget waktu Regan sama Romeo bilang, mereka bakal jagain Rex padahal mereka suka cuek bebek sama adiknya itu. Sedangkan Rafael yang nggak tahu apa-apa tapi dia fokus banget nontonin videonya, dan ini makin buat aku mau nangis...
Nggak ada kekurangan dalam cerita, footnote sudah oke. Cuman, antara Maura dan Rafael nggak ditunjukkan kalo mereka sudah akrab. Hanya melalui cerita dari Romeo kalau Maura-Rafael sedang melakukan sesuatu bersama, tetapi nggak dipandangan Audy. Sampai di akhir pun nggak ada percakapan fisik yang menunjukkan kalo mereka sudah akrab -banget-.

Terakhir, aku banyak nemuin amanat dalam cerita ini. Dari mulai buku yang pertama sampai yang ke empat sekarang, rasanya setiap permasalahan yang terjadi punya amanatnya masing-masing yang diriku bingung untuk menuliskan yang mana hehe. Tapi, aku akan mengutip dari perkataan Audy yang menurutku sudah menjelaskan tentang 4R1A dan... jujur, aku masih satu hati dengan tokoh idolaku, Mas Ro yang susah mengikhlaskan. Diriku belum rela harus berpisah dengan mereka!
"Seperti oksigen, keluarga ada di sekitarmu, di setiap tarikan napasmu, mengalir dalam darahmu. Walaupun kamu nggak selalu bisa lihat, tapi kamu tahu keluarga selalu ada bersama kamu. Ya kan?"

Keretakkan 4R Dalam "The Chronicles of Audy: 4/4" || Book Review

Sunday, June 19, 2016

The Chronicles of Audy: 4/4
Orizuka
Penerbit Haru
978-602-7742-53-6
Cetakan pertama, Juni 2015
Cetakan kedua, Juli 2015
314 halaman
Rp 59.000

“Aku memang tidak mau melihat 4R pergi. Namun, aku lebih tidak ingin melihat 4R tinggal tapi menderita."


Walaupun tidak lagi tinggal satu atap dengan 4R, tetapi Audy tidak bisa melupakan mereka begitu saja. Setiap pagi, ia harus menjemput Rafael untuk mengantarnya ke PAUD Ceria karena salah satu dari kakaknya tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Jarak antara rumah dan kos-kosan terbilang cukup dekat. Regan sengaja memilihkannya untuk bisa mengunjungi rumah 4R setiap hari.

Semua berjalan normal, Romeo masih sibuk dengan deadline pekerjaannya, Regan sibuk dengan Maura, Rafael sibuk dengan kejeniusannya dan Rex sibuk dengan skripsi Audy.

Sampai akhirnya masalah pelik muncul kembali bertubi-tubi; Rafael dikeluarkan dari sekolah, Regan sibuk mempersiapkan pernikahannya, Rex melanjutkan studinya ke MIT, dan yang terakhir Romeo harus keluar dari zona nyamannya.

Berkat itu semua, mereka tercerai-berai dengan pikiran masing-masing, ditambah Regan membawa beban tidak hanya kepada 3R, tapi juga pada dirinya. Karena mereka harus pergi ke tempat yang lebih baik. Artinya, Audy harus merelakkan hidup jauh dari 4R.

Wow, dalam waktu sesingkat-singkatnya dan secepat-cepatnya, aku menyelesaikan novel 4/4 dan langsung membuat review-nya (berasa dikejar depkolektor).

Aku menutup buku ini tidak seperti seri sebelumnya, mau nangis terharu tapi kelihatannya itu memalukan. Aku dipermalukan sebuah novel, sial :( dan pertama kalinya endingnya sedikit... Gantung! Bukan, penasaran! Ah tau deh, pingin cepetan lanjut baca diriku bertanya-tanya....

Mengangkat masalah dari cerita sebelumnya, tentang “pernyataan cinta terhadap Audy Nagisa” yang belum selesai dan tidak akan selesai. Ternyata masalahnya lebih pelik daripada mengajarkan Rafael kesopanan.

Aku lupa mereview di awal seri, jadi cerita 'The Chronicles of Audy' ini setiap pembukaan bab baru munculnya bukan bab 1, bab 2, melainkan kayak outline skripsi --dan aku sendiri baru pertama kali ngeliat di novel ini.
Nah, di outline skripsi seri ke tiga ini beda sama yang terdahulu. Kalo yang dulu, selalu ngebahas tentang keluarga dan segala keluguan Audy, di seri ke tiga ini, pernyataan cinta terhadap Audy Nagisa sampai dia layak nggak buat salah satu dari 4R.

Ketebak dong, percintaan di sini tambah kental banget? Yap! Pasti akan mengira begitu, tapi salah besar deh. Kalo tokohnya romantis, mungkin bisa mendukung. Tapi ini sudah remaja, labil, dingin, jenius, cuek bebek, seketika aku ingin berkata ‘Audy bisa apa, Rex? BISA APA?!’

A: "Aku... salah satu orang yang nggak bisa ngerjain soal logaritma mudah itu."
R: "Tapi kamu satu-satunya orang yang pengin aku ajarin soal logaritma itu."

Rasanya diri ini mau menangis saja kalau ngeliat mereka berdua kelai karena cemburu sama nggak peka. Tapi mereka nggak pernah ngomong sefrontal gitu, aku geram sendiri bacanya. Kok ya bisa gitu nah, mba Rizka menciptakan dua tokoh ini untuk saling menyukai? Lucu sih, geli geli kalo ngeliat mereka udah adegan norak-versi-audy. Tapi juga sebel kalo sudah marahan, yang satu lempeng yang satunya lagi pasrah.
Tapi ngeliat respon pembaca yang lain, pada ngeship sama mereka berdua sih, memang cocok. Nggak mungkin kan Rafael yang sama Audy. Itu bakalan awkward kalo kata Rafael.

Untuk yang kali ini, di seri ketiga sudah mulai banyak memakai footnote, beberapa istilah yang ada di seri pertama juga masuk di dalam cerita ini dan diberi penjelasan, Alhamdulillah. Tapi, di sini malah muncul typo, nggak banyak sih, maklumin aja karena sudah tertutupi dengan cerita yang apik tenan!

Aku masih tetap pada pendirianku untuk mengidolakan Mas Ro. Sebelumnya aku sudah membeberkan sifatnyakan?
Nah kali ini aku mau kasih tau, kalo Romeo itu nggak sperti itu. Dia seperti banyak yang dibilang orang, kalo bahagia di luar belum tentu sama kayak yang dirasain.
Kurang lebih seperti itu. Dia banyak punya trauma, dan aku bener-bener ngerasa kalo Romeo ini nyata! Saking nyatanya, aku pingin peluk dia dan bilang, kalo dia juga masih punya fans kayak aku kok /plak.
Dan pas di akhir cerita. Wow, wow, wow, akan ada sesuatu yang membuat terkejut. Aku sendiri nggak sabar untuk lanjut ke seri ke empat. Karena Romeo mengibarkan bendera perang bung! Penasaran? Sama, diri ini juga.

Dan tepat di bagian akhir juga --bukan, dipertengahan asal mulanya-- Romeo adalah kesayangan para ibu.
Aku baca ini geli sendiri, kok bisa ibu-ibu. Tapi ya gitu, karena Romeo paling ramah dari 4R, pasti ibu-ibu tertujunya sama yang muka ceria ditambah ganteng kan, jadinya tertuju ke Romeo. Asli, humor aku memang receh. Tetapi cerita ini nggak recehan!

Mungkin dia bukan orang yang mampu memecahkan masalah, tetapi dia selalu menerima, selalu mencari alasan untuk menerima, selalu mencari cara untuk menerima semuanya, tanpa mengeluh.

Last but not least, kak Rizka memang nggak asal buat cerita. Memang bener-bener dipikirin! Aku sudah cukup salut dengan seri kedua dan tambah salut ke seri ketiga. Karena rasa penasaran ku --dan semua orang-- terbayarkan, Rex itu jenius, IQ-nya sendiri 152! Tetapi kenapa masih SMA?! Kenapa ngga ikutan akselerasi atau semacamnya?!

Di sini, kak Rizka bilang, melalui Rex, kalo dia malah sudah bisa lulus kuliah. Tetapi dia mau ngikutin cara orangtuanya, untuk bisa berbaur dengan teman-teman sebaya, tetapi itu sebenarnya nyiksa dia.
Dan disini aku baru paham, kenapa orang jenius itu susah bergaul, karena mereka butuh teman yang paham sama apa yang mereka bicarain (dan diriku anaknya lemot banget, pantesan ngga bisa punya temen kayak Rex /dor).

Rasanya novel ini juga mewakili perasaan anak jenius, kalo selamanya mereka nggak seperti yang dibangga-banggain banyak orang. Mereka susah buat berinteraksi apalagi nyari sekolah :’)

Kita mlipir ke seri terakhir, nggak sanggup harus berpisah... "The Chronicles of Audy: 02" masih bisa dilanjutin nggak? /plak.
Konsep ini begitu baru bagiku, tapi terasa nyaman dan hangat walaupun aku tahu aku akan kehilangan mereka.

Pernyataan Cinta Terhadap Seorang Audy Nagisa Dalam "The Chronicles of Audy: 21" || Book Review

Saturday, June 18, 2016

Judul: The Chronicles of Audy: 21
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Penyunting: Tia Widiana
Cover desaigner dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader: NyiBlo
Terbit: Juli 2014
ISBN: 602-774-237-2
Jumlah: 308 Halaman
Harga: Rp 59.000

Kali ini, Audy tinggal di rumah 4R dengan status yang berbeda. Ia tidak lagi menjadi babysitter-garis-miring-pembantu tetapi ‘bagian dari keluarga’.

Awalnya semua berjalan sama seperti dulu, hingga saat salah satu dari 4R menyatakan perasaannya kepada Audy.
Belum cukup hal yang mengejutkan datang, tiba-tiba Maura, calon istri Regan bangun dari koma yang dialami selama 2 tahun.
Yang lebih tidak diduga Audy, satu persatu dari 4R menunjukkan kekurangannya.

Audy mencoba merubah mereka menjadi lebih baik, bukankah itu ‘bagian dari keluarga’?
Setidaknya itu yang dikatakan Regan, saat memohon dirinya untuk tinggal kembali di rumah 4R.


"Cinta bisa membuat orang tergenius sekalipun jadi gila!"

Selamat liburan buat anak sekolah! Hip hip hore!
Akhirnya bisa lancar buat nge-blog lagi, saat bulan lalu sama sekali nggak ada isi post’an karena sibuk-sibuknya ulangan harian sama kenaikan kelas /sok sibuk banget/

Nah, setelah memendam diri ini entah di mana, aku masih --atau sangat-- teringat utang reviewku buat Tantangan Membaca Haru, #tbh aku baru mulai baca cerita dari penerbit Haru bulan ini.

Seperti review sebelumnya, kali ini masih dengan The Chronicles of Audy. Yey!
Aku mulai dari sampul, seri kedua membawa warna biru muda, setidaknya begitu pada sisi glitter, I love it! Tapi pas di sampul malah biru tua dan tulisannya warna hitam jadi kurang kebaca gitu. Sayang banget, ya kalo bisa sih biru yang nggak terlalu tua yang penting dari jauh dapet kebaca.

Kok sampulnya gambar kapal tapi di bagian sinopsis bertebaran kubik-rubik? Jadi, di cerita ini ada bagian saat Rafael ngajarin Audy main kubik-rubik. Pokoknya manis banget deh pas Rafael serius banget ngajarin Audy sampai akhirnya dia ketiduran gitu. Aku nggak sanggup bayangin ada anak kecil lucu, jenius, ganteng pula serius ngajarin sesuatu sampai tidur. Gemes sendiri diri ini /plak.

Selanjutnya, tokoh. Dari seri sebelumnya, banyak perkembangan berarti di seri kedua ini. Semua tokoh semakin ditonjolkan. Kalo di buku yang pertama aku hanya dapet sosok Regan dan Romeo. Di sini aku dapet mereka semua, ya walaupun Regan tidak terlalu karena dia lagi sibuk dengan sang kekasih /dor.

Dan masih sama dengan genre family bercampur comedy, di seri kedua juga menampilkan romance yang bukan sebagai pelengkap kayak di seri pertama. Di seri kedua ini, dimunculkan banget, karena sudah kebaca dari sinopsis. Dan berhasil tambah bikin aku geli sendiri. Sakit hatinya makin kerasa, apalagi ada acara sinetron segala (ini Romeo yang mengusulkan). Meskipun begitu, kak Rizka masih berkomitmen untuk tetap di family loh, karena kalau terfokus di romance, kasihan 3R lainnya.

“Lagi pula, keluarga nggak semestinya punya perasaan suka, dalam artian… suka, suka, kan?”

Terus ke tokoh favorit, masih sama dong. Mas Romeo Rashad. Setelah aku bingung untuk menyampaikan alasan kenapa aku bisa menyukai tokoh ini, padahal dari seri pertama aja sudah dikatakan kalo dia itu jorok dan jarang mandi. Aku menemukan jawabannya dari kutipan Audy /nggak nyolong ah, ini satu hati sama Mba Audy /maksa
"Dia punya kemampuan untuk menyesuaikan diri dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman."

Biar lebih diperjelas, Romeo ini anaknya friendly gitu. Dari 4R cuman dia yang ramah, Regan sih juga ramah, tapi terlalu tegas. Terus Romeo dia nggak nyusahin, dia masa bodo sama ucapan orang tentang dirinya, dan yang paling penting, dia hidupnya santai kayak berjemur di pantai. Bener-bener deh Romeo, dia malah bilang, ‘jangan lupa, kalo kamu stres, ada aku.’ tuh mikirin perasaan orang banget kan? Bener-bener nggak salah deh idolain Mas Romeo walau jarang mandi hahaha.

Dan kalo baca reviewku sebelumnya, aku selalu ngakak di bagian Audy dan Romeo kelai. Nah Audy tuh selalu marah sama Romeo karena ngajarin Rafael tanpa sengaja yang nggak bener. Kayak majalah playboy dan entah mengapa Mba Rizka di dalam novel ini masukin nama artis Megan Fox, Demi Lovato, Californian girl, sampai Kardashian sekeluarga. Dan Rafael nyanyi lagu 'Call Me Maybe'. Oh-my-god.
"Terima kasih lho, Romeo Rashad dan playlist iTunes-nya."-Audy
Oh, yang paling kutunggu, mungkin di seri selanjutnya bisa masukin taysquad! Hahaha . Kalo 4R ini cewek, ketebak isinya bakal fangirl deh.
Ini seri ke dua, berarti harus baca seri yang pertamanya dulu kan? Kalau bisa kubilang, nggak juga. Karenaaaaa, di bagian awal ada sisipan penjelasan dari seri yang pertama, malah saat konflik yang ada di seri pertama juga dimasukin saat di bagian tengah di cerita ini. Tapi nih tapi, seperti katanya Kak Rizka saat aku baca di ‘thanks to’ lebih afdol kalo baca yang pertama, biar kerasa bapernya kalo beranjak ke seri kedua!

Karena cerita ini berseri, aku cukup salut buat Kak Rizka yang sangat mateng memikirkan ide cerita. Dari seri pertama lanjut yang kedua itu masih nyambung banget! Kayak keterikatannya itu nggak diputus gitu aja. Bener-bener salut deh sampai plot twistnya nggak kebayang.

“Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa hidup."

Aku sedikit cerita di atas waktu Rafael ketiduran ngajarin Audy main kubik-Rubik, tapi sebelum itu terjadi, si Rafael lagi merajuk sama kakak-kakaknya, karena Audy bakalan mau pindah (lagi). Di sini aku mau nangis rasanya, liat perkembangan Rafael. Waktu awal dia jahat banget sama Audy sampai akhirnya malah nggak mau ngelepasin Audy. Kejadiannya itu berasa nyata banget di aku, apalagi si Rafael sampai teriak-teriak ngga terima. Hati ini terenyuh membacanya /dor. Aku nggak bohong. Feelnya kerasa banget, anak kecil kalau lagi merajuk dan nggak paham sama masalah sebenarnya itu memang susah. Tapi Rafael, sumpah... Jadi adek aku, yuk? /eh

Tentang kekurangan masih sama seperti seri terdahulu, banyak kalimat asing atau baku lebih tepatnya. Dan nggak ditaruh footnote, jadi hanya mampu menerka-nerka. Harus rajin-rajin buka kamus sih hmmm.
Pada halaman 183 terdapat kalimat “OOT” tanpa penjelasan apapun. Dan aku sendiri baru tahu kalimat OOT kurang lebih sebulan yang lalu karena masuk di grup penulisan. Jadi OOT itu Out of Topic. Keluar dari topik pembicaraan yang lagi diomongkan.

Yap! Segitu dulu review tentang The Chronicles of Audy: 21 aku mau berlanjut ke The Chronicles of Audy: 4/4. Sayonara!
"Aku harus memberinya pengertian dan tidak boleh memberinya harapan. Aku harus menolak perasaannya, demi diriku sendiri, juga keluarga ini."

Kesialan Seorang Audy Nagisa dalam "The Chronicles of Audy: 4R" || Book Review

Thursday, June 16, 2016

The Chronicles of Audy : 4R
By Orizuka
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
ISBN 978-602-7742-21-5
Cetakan pertama, Juli 2013
Cetakan keempat, Juli 2014
320 Halaman
Rp 56.000

Apa yang kamu rasakan saat gelar yang sudah kamu tunggu bertahun-tahun kini di depan mata tapi terkendala kondisi keuangan?
Itulah yang dialami oleh Audy Nagisa, seorang mahasiswi dari Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada.
Semua mimpi-mimpinya tinggal selangkah lagi, tetapi musnah saat kedua orangtuanya terjerat sesuatu yang mengakibatkan ia harus hidup berkecukupan, hingga menunggak uang kos berbulan-bulan.

Audy memang memiliki sahabat, Missy, yang akan membantunya. Tetapi Audy bertekad untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri selama di Yogykarta hingga menjadi seorang babysister di rumah keluarga 4R.
Semuanya terlihat jelas, Audy hanya tinggal mengasuh seorang bayi lucu dalam waktu 15 jam dengan bayar gaji dimuka! Sampai akhirnya Audy merasa tertipu dan terikat dalam satu waktu dengan 4R.

Regan, Romeo, Rex dan Rafael. Mereka semua memiliki sifat yang berbeda-beda hingga Audy merasa tertekan, tetapi ada satu pertanyaan dalam benak Audy. Ada apa dengan kehidupan 4R ?!


Jujur! Bukan cuman Audy yang tertipu dengan keluarga 4R, diri ini pun tertipu dengan sinopsis dari kronik Audy Nagisa. Selesai baca aku cuman bilang, ‘turut berduka, Audy’ /dorr. Tetapi aku ngga nyesel karena sudah bawa novel ini ke kasir, ceritanya bikin nagih. Dan untuk jujur yang kedua kalinya, saat menulis review novel ini artinya aku sudah membaca novel ‘The Chronicles of Audy: 4R’ tiga kali! Tiga kali dengan euforia yang sama.

Mungkin banyak yang bilang, kalo kita nggak bakal tertawa dilelucon yang sama berkali-kali. Tapi novel ini berhasil bikin aku masih ketawa geli, geram malah perasaan sedihnya masih dapat (walau aku sudah tau diadegan yang mana).

Terus gaya bahasa yang digunakan, (rasanya ini kiblatku dalam menulis) ringan gitu, kita bacanya nggak perlu mikir berkali-kali, ngalir kek air ikutin aja jalan ceritanya. Santai banget lah, padahal ini pertama kalinya aku baca buku Kak Rizka --dan ini adalah buku ke 20 nya-- aku langsung jatuh hati dan nggak kapok untuk baca yang lain!

Ngomong-ngomong, sampulnya memang simple banget, warna coklat kayak serta-serat gitu sih. Tapi yang bikin menarik karena ada glitter merah mudanya di sisi-sisi novel. Aku suka! Dan ternyata berhasil mendapat penghargaan Anugerah pembaca Indonesia nominasi untuk sampul buku fiksi terfavorit(2013) Uwo!!!

Oke, lanjut ke bagian cerita, pertama-tama aku akan mengenalkan Audy Nagisa. Perempuan 22 tahun. Dan hidupnya penuh cobaan. Ini serius loh, Kak Rizka bener-bener nyiksa tokoh Audy!

Setelah itu, Regan Rashad. Lelaki berumur 26 tahun. Pengacara. Anak pertama. Tegas tapi ganteng /yaampun diri ini lemah, saat ngebayangin dia pulang kerja, lepas jas gulung kemeja/

Kemudian, Romeo Rashad. Lelaki berumur 22 tahun. ‘Hacker, cracker, gramer, you name it’. Oh aku suka banget sama karakter ini. Entah kenapa aku pingin punya hidup kayak Romeo, enak banget deh! Harus baca biar tahu kenapa aku bangga sama Romeo yang padahal ngga jelas --atau mungkin hanya aku pembaca yang jatuh hati dengan sifat absurdnya Romeo.

NEXT!!! Rex Rashad. Oke, hampir semua pembaca jatuh hati dengan tokoh ini. Gimana nggak? Masih 17 tahun. Jenius. Dingin. Uuuw… siapa yang nggamau ketemu tokoh cowok kayak gini, hayo?

Terakhir, anak kecil yang sudah dewasa sebelum umurnya, Rafael Rashad! Umur 4,5 tahun tapi sudah tahu kepanjangan UNICEF (sampai sekarang aja diri ini nggatau kepanjangannya apa /dorr) jangan kaget ketemu anak kecil kayak gini! Di dunia nyata ada banyak sosok kayak Rafael.

"Sebenarnya, aku sadar kalau kamu..., punya perasaan sama aku," katanya, membuatku terperanjat. "Aku ngga bisa melarangmu, tapi..., aku juga nggak bisa membalasnya."

The Chronicles of Audy bergenre family dengan comedy. Cinta-cintaan hanya sebagai pelengkap biar manis-manis dikit, tapi menurut aku sih sudah manis kenal 4R hehehe. Jangan mentang-mentang ‘ah, ngga ada romancenya apa yang menarik’ justru lebih ngga menarik kalau kamu kelewat baca cerita ini! Trust me. Mereka menyimpan banyak rahasia loh...

Tokoh-tokoh di dalam cerita ini terlihat nyata, mereka nggak dibuat sesempurna itu. Walau aku deskripsikan mereka sempurna, tetapi mereka layaknya manusia butuh ketakutan, kehilangan, kerapuhan, dsb. Menurutku saat diberitahukan kekurangan mereka, itu nggak terdengar informatif, sama sekali nggak! Malah aku ngerasa Audy lagi cerita sama aku. Ketangkep banget jadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari! Benar-benar dibuat terasa nyata semuanya...

Apa di cerita ini cuman agar kita tahu, bagaimana keluarga 4R?! absolutely no! Seperti yang kubilang kalau mereka banyak rahasia, dan kebenarannya diungkapkan dengan perlahan satu persatu. Kamu juga pingin tahu dong, 'bagaimana kehidupan Audy dengan gelar sarjananya yang tinggal selangkah lagi?' Atau mungkin ‘gimana rasanya tinggal bareng 4 cowok ganteng?’ Berhasil dibuat bertanya-tanya dalam setiap halaman. Rasanya nggak rela nutup buku ini tanpa tahu setiap akhir permasalahan.
Selanjutnya, adegan yang bikin aku ngakak, (oke, selalu ngakak malahan) saat Romeo bertemu Audy dalam satu scene. Mereka selalu kelai yang nggak penting. Apalagi awal mereka ketemu karena kesalapahaman yang nggak banget. Kocak deh asli! Pembodohan, apalagi ngebayangin muka bloonnya mereka berdua.

Setelah aku menceritakan, kesempurnaan dari cerita ini. Aku ingin memberitahu sedikit kekurangan, banyak banget singkatan-singkatan yang kurang kupamahi, kata-kata asing, malahan terdapat bahasa jawa yang ngga semua orang paham, lebih baik kalau bisa semua itu dikasih footnote --atau mungkin, aku yang kurang jenius hahaha.

Last but not least! Ini adalah seri pertama dari The Chronicles of Audy. Jadi, kisah Audy bersama 4R akan berlanjut di ‘The Chronicles of Audy: 21’ Sampai jumpa di review selanjutnya!

Melanjutkan Perjalanan Mencari Romeo - LDR #2 : L'amore di Romeo || Quote

Tuesday, February 9, 2016


Judul : #LDR2: L'amore di Romeo
Penulis: Cassandra Massardi & Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover Designer: Marcel A.W.
Photos by : Frans Hambali / Maxima Pictures
ISBN : 978-602-03-1813-4
Tebal: 256 halaman
Harga: Rp. 58.000,-

Tagline

Aku yakin, Romeo-ku masih ada diluar sana...
Dan ia sedang menungguku untuk melihatnya...

Blurb
Cinta abadi tak hanya ada di Roma!
Untuk sementara, biarlah Carrie beranggapan begitu. Jadi
sekarang, mari lupakan kesedihan dan siap melangkah ke
depan!
Carrie pun berkenalan dengan kota baru yang siap
mengobati luka hatinya, siap memperkenalkan cinta baru
untuknya.
Nama kota kecil itu adalah Verona...
Di tempat yang menjadi saksi kekuatan cinta abadi
Romeo dan Juliet itu, Carrie berharap Verona memberinya
kesempatan untuk merasakan cinta.
L’amore di Romeo—cinta seorang Romeo...
Semoga Verona tak mengecewakannya.
Semoga ia bisa mengobati hati Carrie.
Dan mempertemukan Carrie dengan Romeo-nya…

“...juliet, tolong katakan pada cinta sejati yang ada di hatimu. Kali ini, aku tidak akan mengejar cinta sejati. Aku akan membiarkan cinta sejati yang datang mengejarku. Aku disini”
"... gue percaya cinta seperti Romeo dan Juliet itu ada kok. Dan cinta seperti itu memang cuma menyapa orang-orang berhati tulus."

Ciao, amica!

Ngga kerasa sudah selesai liburan aja (3 hari bisa dibilang liburan ngga sih? Haha). Jadi selama 3 hari ini aku memilih saran dari temanku untuk memanfaatkan liburan sebaik mungkin! Masalahnya kalo sudah ketemu weekend, itu artinya harus kerjain timbunan pr. Garing banget hidupku, pantesan! Dan di 3 hari yang berusaha kumanfaatkan itu... aku berhasil membaca 4 buku dan beberapa cerita wattpad sampai tamat. Entah kerasukan apa bisa baca buku sebanyak itu dalam waktu singkat. Sungguh kebanggaan tersendiri hehe.

"Mata kalian berdua itu udah ketutup sama cinta! Tapi, yang harus kalian berdua tahu,cinta yang ada di hati kalian itu bukan cinta abadi atau cinta murni, tetapi cinta yang egois."
"Jika kita mencintai seseorang, keinginan untuk bersamanya sekuat keinginan murid menjauh dari buku pelajaran. Sedangkan meninggalkan orang yang kita cintai, rasanya seberat hati murid yang harus ke sekolah. Tapi semua ada kodratnya. Murid harus masuk sekolah. Sama seperti suatu saat nanti, aku harus meninggalkan kamu."

Ngomong-ngomong amica itu artinya teman dalam bahasa Italia. Kenapa pembukaan aku menggunakan bahasa Italia? karena –biar dikata keren aja sih hehe- aku baru saja membaca LDR #1 dan #2 karya Cassandra Massardi dan Silvarani. Novel yang dikeluarkan berdekatan dengan peluncuran filmnya sendiri tahun kemarin. Film LDR ini berhasil membuat para anak abege heboh ditambah pemeran utamanya yaitu AL dan Verrel *duh* dan aku baru saja selesai membaca novel ini? Ya tuhan ampunkan.

mungkin bodoh jika mengharapkan, apalagi mencintai seseorang yang mungkin tidak berusaha sama sekali menggapai kita. Akan tetapi, pilihan hati tidak bisa disangkal. Di sanalah, rasa cinta bersemayam, mengendap, tak dapat membeku.
"Kamu tahu apa itu cinta. Kamu ngga perlu merangkai kata-kata indah yang bisa kamu persembahkan untuk seseorang. Tanpa kata-kata, kalau memang kamu mencintai seseorang, dia juga akan menyadari bahwa sesuatu yang kamu bawa adalah cinta."

Jadi untuk mengatasi kebasianku karena aku ngga mungkin review bukunya, sudah kadaluarsa kali! Ataupun review filmnya, baru selesai baca aja sudah sok mau review film hm. Jadilah aku menyimpulkan untuk memberi beberapa quote yang ada didalam buku LDR#2: L’Amore di Romeo. Harusnya aku juga memberikan isi quote yang ada di buku LDR#1. Tapi karena kepikiran untuk tidak mereview, jadilah aku tidak menandai halaman-halaman yang kusuka. Padahal banyak sekali hal-hal yang.... astaga tidak bisa diucapkan.
kertas-kertas ini adalah bukti bahwa semua manusia di dunia tak lepas dari sapaan cinta. Siapa pun bisa jatuh cinta, tetapi siapa pun bisa patah hati.
"Terkadang manusia perlu egois untuk mendapatkan sesuatu yang berharga di dunia ini. Apalagi kalau hal yang ingin didapatkannya itu adalah cinta yang hanya dimengerti oleh hati."

Hatinya bertanya, siapa yang duluan ingin menangis? Langit yang mulai gerimis atau mata yang sudah basah?

Dan saat menulis ini, entah mungkin dewa-dewi yunani lagi berbaik hati kepadaku. Karena film LDR#1: L’eternite di Roma akan muncul di tv untuk yang pertama kalinya yey! Padahal aku sudah pasrah mungkin tunggu di tv beberapa bulan lagi, tapi... terima kasih kepada Apollo dan Dante, Juliet dan Romeo, terutama Cupid-kali ini panah asmaramu berhasil masuk kedalam hatiku yang setebal baja walau tidak berbentuk cinta tapi kebahagiaan. Nah kan tambah ngelantur akibat efek terkena sindrom si Carrie ini hehe.
"Tapi sebenarnya cinta itu nggak perlu pengorbanan."
"Lho, kenapa?"
"Kalau seseorang merasa berkorban untuk orang yang dia cintai, berarti dia harus mempertanyakan cintanya itu tulus atau ngga. Kalau kita tulus mencintai seseorang, kita nggak merasa melakukan pengorbanan yang menghabiskan waktu, energi, dan uang kita. Kita ikhlas memberikan apa saja untuknya."

Quote-quote yang terdapat didalam novel LDR ini sukses bikin aku pingin pasangan seperti Romeo, dan aku tahu itu tokoh fiktif. Tapi serius, ngga ada yang mau ngajakin aku ke Roma dan Verona sekarang nih? Hmm.
...jika kita mencintai seseorang, berarti kita juga harus menghargai masa lalunya sebagai bagian dari dirinya.
"Dan gue yakin, cowok jodoh gue itu akan tetep bisa jadi milik gue, apa pun rintangannya."

Seumur hidup, baru kali ini ia merasa ada sesuatu yang hangat muncul di hati. Sebelumnya, ia hanya tahu dan meyakini bahwa perasaan sejenis ini hanya ditemui Juliet dari diri Romeo.
"Selama hidup di mimpi-mimpi dunia Romeo dan Juliet, lo akan terus kecewa dan dimainin banyak cowok."

"A man who knows his way in the kitchen will know his way to your heart."

"...kenapa cewek selalu luluh kalau lihat cowok nangis?"
"Elo barusan mainin rambut. Di ilmu bahasa tubuh, itu tandanya cewek mulai tertarik sama lawan bicaranya."

Namun, sekian lama dipikirkan, kekecewaan itu sebenarnya berubah wujud menjadi penyesalan. Penyesalan karena pura-pura tidak membutuhkan.
Namun, itulah cinta. Kalau kita ikhlas mempersilakannya masuk ke hati, kita harus mampu menanggung segala kebahagiaan dan luka yang diakibatkan rasa itu.

Saat ini, jika hatinya boleh jujur, ada kesedihan yang menguasai. Kesedihan yang awalnya ia kira akan mendatangkan kebahagiaan.
Memangnya untuk mencium seseorang tidak diperlukan nyali dan perasaan yang mendukung? Mencium seseorang berarti pembuktian bahwa kita memberikan kasih dan sayang kepada seseorang yang kita pilih.

Scene filmnya romantis banget ya ampun... ngga sanggup liat Al peluk-peluk cewek hiks. Jujur aku nungguin banget bagian Al ini yang mana, aku nebak-nebak dari awal... eh taunya yang LDR #1 tentang Demas yang diperankan Verrel (kalo di film aku belum tau loh ya hehe)
"Semakin kita buat sugesti kalau orang ini adalah jodoh kita, maka semua kebetulan akan terlihat seperti 'tanda-tanda' dari dewa cinta..."

Mungkin segitu aja quote-quote yang membekas dihatiku *apaan deh* tapi seriusan ngena banget! Pas baca aja kayak diajak travelling sambil sakit hati apalagi pas nonton ya. Ngga sabaaarrrr doh *euforianya lawas*
Grazie buat yang sudah baca hihi... Semoga bisa ketemu Romeo atau Julietnya masing-masing ya ;)

Per te... from your Juliet, Romeo :P
Ia tak mau mati sekarang. Masih banyak yang ingin ia lakukan. Masih banyak mimpi yang ingin ia wujudkan.

[REVIEW] Love at The Rooftop - Hana Sutresna

Thursday, January 7, 2016


Love at The Rooftop
Penulis : Hana Sutresno
Penerbit : Bhuana Sastra
ISBN : 978-602-249-815-5
Penyunting : Novalya Putri
Penyelaras Akhir : Hegar Purna Purina
Tata Letak : Helen Lie
Ilustrasi Cover : Dewi Citra
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal : 138 Halaman

"Andai kau tahu rasa ini tak pernah hilang..."


Sebuah kotak rahasia tersimpan dalam hati Jill, kotak yang bercerita tentang cintanya pada Vian. Hanya Tuhan yang tahu, betapa Jill sangat mencintai partner bertengkar semasa SMA-nya.
Setelah delapan tahun, mereka bertemu lagi dalam acara bulanan penghuni apartemen mereka di rooftop. Sekarang Vian adalah tetangga sebelahnya. Mereka pun kembali akrab, dan tetap sering bertengkar seperti dulu.
Kini, haruskah Jill jujur tentang kotak rahasia didalam hatinya itu? Atau, ia membiarkan kotak itu tetap berada disudut hatinya setelah tahu bahwa Hilly, sahabatnya jatuh cinta dengan Vian?

***

Perayaan Rooftop bulan ini sangat berbeda, akan ada kuis pasangan. Jill tidak ingin menghadiri perayaan tersebut, Ia tidak tahu akan membawa siapa. Tapi tiba-tiba saja Alena dan Hilly menyarankannya untuk pergi bersama teman sekamar Justin yang baru. Alena mungkin tak akan kesal jika seseorang itu adalah orang yang belum Ia temui dalam kehidupannya. Tapi yang hadir adalah musuh besarnya--Cliff Oktavian. Perang antara mereka tak akan pernah selesai. Bagai bumi dan langit, mereka tak akan bisa bersatu karena jika bersama akan terjadi keributan yang tak akan berhenti. Sampai ketika, perasaan itu mengusik Jill. Ternyata, rasa itu belum seutuhnya mati.

“benar kata orang, jangan terlalu benci karena akan menimbulkan cinta. Itulah yang terjadi kepadaku.”

Jill menyukai Vian sejak SMA. Tapi memilih untuk melupakannya bersama Jimmy. Vian pun saat itu berpacaran dengan Shinta. Tapi itu masa lalu. Setelah 8 tahun tidak bertemu, kini mereka tak memiliki siapapun. Saat Jill tak sanggup menahan rasa cintanya, tiba-tiba Jimmy kembali hadir ingin kembali bersama dan Hilly, sahabatnya malah jatuh terhadap pesona Vian. Apa Vian benar jodoh Jill? Jika jodoh kenapa sesulit ini untuk mereka bersama.

…sejak pertama kali cinta itu mengetuk. Aku bersembunyi, di balik sikapku yang kerap bertengkar dengannya.

“…mencintainya sejak lama, dia cinta pertamaku, tapi kenapa kami tidak pernah bisa duduk manis dan bicara lembut satu sama lain?”


Nggatau harus berekspresi bagaimana ketika menyelesaikan novel ini dalam waktu 2 jam. Iya sih halamannya sangat sedikit… tapi kebanggaan karena diselingi pr yang terus menumpuk hehe.

Dan karena halaman ini sedikit banget. Aku kurang puas, cerita ini bisa dikembangkan lagi (SUNGGUH). Malah terlalu banyak yang bisa dikembangkan. Konflik yang bertaburan membuat cerita ini harusnya bisa membangkitkan keingintahuan apa yang akan terjadi atau bagaimana berlanjut. Tapi *wuuus* konflik selesai begitu saja. Kurang mengasyikkan. Selain mudah ditebak juga penyelesaiannya seperti pingin langsung selesai tanpa bertele-tele. Mungkin jika ingin membuat novel dengan halaman yang sedikit, lebih baik hanya menggunakan satu atau dua konflik agar terasa alur ceritanya.

Dan sangkutpautnya dengan konflik, mengakibatkan para tokoh disini tidak mendapatkan porsi yang pas. Jimmy dan Hilly menurutku mereka sangat penting. Jika tidak ada mereka. Konflik itu hanya mengarah ke perasaan Vian-Jill. Tapi disini Jimmy dan Hilly menyatakan “suka dan melupakan” seperti tidak akan terjadi apa-apa. Sangat disayangkan.

Kekurangan itu ditutupi oleh layout halaman yang cantik! Dan juga tidak ada kalimat sukar ataupun salah dalam pengetikan. Jadi poin tambahan dong….

Last but not least…. Judul novel dengan cerita menurutku sangat kurang pas. Karena Rooftop hanya terjadi dibagian awal dan akhir. Setelah itu tak ada apa-apa. Atau mungkin karena ada perayaan Rooftop setiap bulan kali ya makanya dinamakan ini... Aku kira rooftop adalah tempat mereka sering bertemu nantinya, tapi ya…. sekali lagi, tidak sesuai harapanku ;)

“… sampai akhirnya, aku tahu perasaan cinta itu harus kutelan sendiri.”
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS